Pencarian

Pabrikan China Kuasai 50 Persen Pasar EV Asia Tenggara, Pasar AS Stagnan di 10 Persen

Kamis, 21 Mei 2026 • 01:00:14 WIB
Pabrikan China Kuasai 50 Persen Pasar EV Asia Tenggara, Pasar AS Stagnan di 10 Persen
Pabrikan China menguasai 50 persen pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara pada tahun lalu.

BANTEN — Laporan International Energy Agency (IEA) mementahkan narasi global bahwa pasar kendaraan listrik (EV) tengah lesu. Pelemahan permintaan rupanya hanya terjadi di Amerika Serikat, sementara wilayah lain justru mencatatkan rekor pertumbuhan baru. Di Amerika Latin, angka penjualan melonjak hingga 75 persen sepanjang tahun lalu.

Penjualan EV Asia Tenggara Didominasi Produk China Hingga 50 Persen

Asia Tenggara kini menjadi salah satu motor penggerak utama transisi energi global. Lebih dari setengah total kendaraan listrik yang terjual di kawasan ini merupakan rakitan perusahaan otomotif asal China. Penetrasi ini membuktikan bahwa konsumen di negara berkembang sangat responsif terhadap kendaraan ramah lingkungan jika harganya kompetitif.

Di Thailand, harga mobil listrik bahkan sudah setara dengan mobil berbahan bakar bensin (ICE) selama dua tahun terakhir. Masuknya impor mobil listrik murah dari China berhasil menekan harga jual rata-rata di pasar domestik. Fenomena ini mematahkan teori lama yang menyebutkan bahwa teknologi EV terlalu mahal untuk diadopsi oleh negara-negara berkembang.

Fakta Singkat Transisi Pasar EV Global

  • 20 Juta Unit: Total penjualan mobil listrik global tahun lalu, setara 25 persen pangsa pasar dunia.
  • 55 Persen: Proporsi penjualan mobil baru di China yang kini sudah beralih ke tenaga listrik.
  • 65 Persen: Kapasitas produksi manufaktur China yang mampu memenuhi kebutuhan pasar EV global.
  • 500 Ribu Unit: Jumlah mobil listrik buatan China yang diekspor dan masuk ke pasar Eropa tahun lalu.

Pangsa Pasar AS Tertahan di 10 Persen Akibat Regulasi Proteksionis

Kondisi sebaliknya terjadi di Amerika Serikat, di mana adopsi EV tertahan di angka 10 persen dari total penjualan mobil nasional. Kebijakan subsidi hijau lewat One Big Beautiful Bill Act justru mematikan skema kredit pajak untuk banyak model EV. Ditambah lagi, proteksionisme ketat mempersulit masuknya mobil listrik murah asal China ke pasar Amerika.

Situasi ini menekan startup lokal seperti Rivian dan Lucid yang portofolionya bergantung penuh pada pasar domestik AS. Sebaliknya, pabrikan tradisional (legacy automakers) masih bisa bertahan menggunakan keuntungan dari penjualan mobil berbahan bakar fosil. Namun, strategi bertahan ini berisiko membuat mereka kehilangan pangsa pasar global dalam jangka panjang.

Kapasitas Produksi China Kuasai 65 Persen Kebutuhan Dunia

Pemerintah China telah menggelontorkan investasi masif selama bertahun-tahun untuk membangun ekosistem otomotif modern. Hasilnya, kapasitas produksi China kini mampu memenuhi 65 persen dari total permintaan mobil listrik di seluruh dunia. Keunggulan skala produksi ini membuat pabrikan China tetap kompetitif meski harus menghadapi potensi hambatan tarif di beberapa negara.

Di pasar domestik China sendiri, lebih dari dua pertiga EV yang terjual memiliki banderol lebih murah daripada rata-rata mobil bensin. Efisiensi biaya produksi ini diperkirakan akan terus meningkat secara global. Lembaga riset Gartner memproyeksikan biaya produksi mobil listrik berbasis baterai akan lebih murah daripada mobil bensin mulai tahun depan.

Langkah Honda Batalkan 3 Proyek EV Mengancam Posisi Global

Keengganan sejumlah pabrikan tradisional untuk bertransisi penuh ke platform listrik dinilai sebagai langkah mundur yang berisiko. Honda, misalnya, baru-baru ini membatalkan tiga proyek pengembangan mobil listrik bersama. Keputusan ini dinilai membatasi ruang gerak perusahaan dalam mempelajari efisiensi produksi yang kini sudah dikuasai Tesla dan BYD.

Padahal, arsitektur EV merupakan fondasi utama untuk pengembangan teknologi kendaraan berbasis perangkat lunak (software-defined vehicles). Tanpa penguasaan teknologi ini, pabrikan tradisional terancam kehilangan relevansi saat selera konsumen global bergeser sepenuhnya. Upaya politik di AS untuk mengembalikan fokus ke bahan bakar fosil diprediksi sulit membendung arus utama industri otomotif dunia.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks