Janji-janji pembangunan data center di AS terus berdatangan, menciptakan proyeksi kapasitas infrastruktur yang fantastis hingga 160 GW pada 2032. Namun, laporan Jefferies yang dibagikan kepada The Register menunjukkan kesenjangan besar antara pengumuman dan eksekusi di lapangan. Keterlambatan ini bukan sekadar masalah jadwal, melainkan cerminan dari hambatan struktural yang sistemik.
Mengapa 80 Persen Proyek Data Center 2027-2028 Belum Tersentuh Konstruksi?
Analis Jefferies menemukan bahwa situasi untuk proyek yang ditargetkan selesai pada 2027 dan 2028 jauh lebih suram. Hampir 80 persen dari kapasitas yang direncanakan untuk periode tersebut belum menunjukkan tanda-tanda pembangunan fisik. Faktor penyebabnya klasik namun persisten: perizinan dan tata ruang yang rumit, hambatan koneksi ke jaringan listrik, kesulitan akses pasokan energi, kekurangan tenaga kerja konstruksi, serta lambatnya penandatanganan kontrak komersial dengan pengguna akhir.
Ketersediaan listrik menjadi isu paling kritis. Keterlambatan koneksi ke jaringan transmisi sudah mencapai laporan hingga tujuh tahun. Kondisi ini memaksa Menteri Energi AS menginstruksikan Federal Energy Regulatory Commission (FERC) untuk mengeluarkan aturan baru guna mempercepat proses bagi pelanggan besar seperti operator data center.
Fenomena "Double Counting" dan Realitas Pasar yang Lebih Rasional
Jefferies juga menyoroti praktik penghitungan ganda yang menggelembungkan angka kapasitas total. Hiper-skala seperti Google, Amazon, dan Microsoft kerap mengajukan permintaan ke banyak perusahaan utilitas listrik secara bersamaan untuk proyek yang sama. Akibatnya, angka pengumuman kapasitas menjadi tidak akurat dan tidak bisa diandalkan untuk mengevaluasi pertumbuhan beban data center yang sesungguhnya.
Laporan tersebut menyarankan indikator yang lebih realistis: perjanjian offtake (pembelian kapasitas), kemajuan perizinan, pendanaan yang solid, dan jadwal konstruksi yang masuk akal. Jefferies memperkirakan kapasitas yang benar-benar dapat beroperasi setiap tahunnya hanya sekitar 15-20 GW, jauh di bawah perkiraan optimis beberapa investor yang mencapai 40+ GW untuk periode 2027-2028.
Strategi Baru: Hybrid dan Perburuan Lokasi dengan Regulasi Longgar
Untuk menyiasati hambatan listrik, operator data center mulai beralih ke model "hybrid" dan "behind-the-meter". Dalam model hybrid, pusat data mengambil daya sebanyak mungkin dari jaringan listrik utama terlebih dahulu, lalu beralih ke sumber daya di lokasi (biasanya pembangkit listrik milik sendiri) untuk menutupi kekurangannya. Ini menjadi solusi pragmatis di tengah ketidakpastian pasokan grid.
Pergeseran geografis juga mulai terlihat. Jefferies mencatat bahwa pembangunan baru semakin terkonsentrasi di wilayah dengan proses interkoneksi dan perizinan yang lebih menarik. Texas, misalnya, mencatatkan 14 GW kapasitas baru yang diumumkan hanya dalam kuartal kedua tahun ini saja. Langkah ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan melonjak, realitas konstruksi tetap tunduk pada hukum fisika, birokrasi, dan ketersediaan sumber daya manusia.