BANTEN — Diskusi soal siapa yang paling pantas merancang kendaraan listrik (EV) bukanlah sekadar wacana iseng. Setelah Sony-Honda gagal total dengan proyek Afeela, dan Ferrari Luce yang didesain Jony Ive menuai kritik pedas, publik mulai melirik merek-merek dari luar industri otomotif. Sebuah jajak pendapat yang digelar pekan lalu justru memunculkan delapan kandidat kuat yang dinilai mampu membuat EV yang lebih baik dari pabrikan mobil konvensional.
Fender: Desain Abadi 1950-an, Tapi Teknologi Mandek
Pabrikan gitar legendaris asal California ini disebut bakal menghadirkan EV dengan DNA retro murni. Setiap mobil akan terlihat seperti dirancang pada tahun 1953, lengkap dengan frame yang ditandatangani secara acak oleh satu orang dari California yang membuatnya bernilai tinggi. Sayangnya, teknologinya tidak akan pernah maju—persis seperti strategi Fender yang terus menerbitkan ulang model 1950-an dengan embel-embel "edisi berbeda" setiap tahun.
IKEA: EV Plastik Fungsional yang Bisa Dirakit Sendiri
Bayangkan sebuah mobil listrik yang praktis, sedikit kurang bertenaga, tapi penuh dengan elemen desain menyenangkan dan material daur ulang yang menarik. IKEA dinilai sebagai kandidat sempurna untuk membuat alternatif murah dari Canoo Slate—dengan bonus utama: mobil ini bukan crossover atau truk. "Beri saya mobil biasa yang bisa dikustomisasi," tulis pengguna dengan nama samaran Scoobie2 dalam jajak pendapat tersebut.
Trek & Shimano: DNA Sepeda Balap untuk Efisiensi Ekstrem
Kolaborasi dua raksasa komponen sepeda ini dinilai paling masuk akal secara teknis. Trek yang menguasai serat karbon, terowongan angin, dan logam ringan, ditambah Shimano yang paham drivetrain, diyakini bisa membuat EV dengan bobot paling rendah di kelasnya. "Hanya pembuat sepeda yang mengerti cara membuat struktur paling ringan dengan material seminimal mungkin," ujar pengguna Buckfiddious. Model entry-level dengan rangka aluminium dan bodi plastik dibanderol Rp 400 jutaan, sementara varian Pro berbahan serat karbon 30 persen lebih ringan dengan harga Rp 800 jutaan.
DeWalt: Truk Listrik Pekerja Keras dengan Baterai Swap
Pabrikan power tools ini dinilai paling cocok merancang mobil listrik untuk pekerja konstruksi. Bayangkan sebuah truk dengan baterai raksasa yang bisa menjadi sumber daya di lokasi proyek—mulai mengecas bor listrik hingga mesin las. Interiornya bisa disiram air, ada boks pendingin built-in, dan brankas untuk dompet. Yang paling menarik: sistem baterai 60V yang bisa ditukar seperti baterai bor listrik biasa. Warnanya pun akan mengingatkan pada kendaraan Caterpillar dan truk mainan Tonka.
Bosch: EV Membosankan yang Tidak Pernah Rusak
Bosch tidak akan membuat mobil yang seksi atau menyenangkan. Tapi mobil itu akan bekerja—dan bekerja dengan sangat baik. Reputasi Bosch di dunia eBike, di mana mereka menjadi satu-satunya produsen komponen yang benar-benar menguasai seluruh sistem, menjadi modal utama. "Jika ada yang rusak, dukungan mereka benar-benar akan mendukung Anda," kata pengguna SantaCruzin.
Costco: Garansi Super Ekstrem untuk Semua Kesalahan
Ritel gudang ini dinilai sebagai satu-satunya perusahaan yang bisa menerapkan model berlangganan dengan benar. EV buatan Costco akan mengalahkan semua pesaing dalam hal kepraktisan, harga, dan keandalan. Bahkan jika pemilik secara tidak sengaja menuangkan bensin ke port pengisian daya hingga mobil mati total, garansi akan menanggung semuanya tanpa banyak tanya.
Frito Lay: Filosofi Keripik Jagung untuk Mobil Sederhana
Jika Frito Lay bisa merancang Frito—keripik jagung sempurna dengan hanya tiga bahan—mereka mungkin bisa merancang kendaraan sederhana dan murah. Idenya adalah membuat mobil listrik seperti Slate, tapi tanpa Jeff Bezos: simpel, terjangkau, dan fungsional.
Temu: EV Termurah dengan Segala Konsekuensinya
Platform e-commerce asal China ini disebut bakal membuat mobil listrik paling murah yang pernah ada. Suku cadang murahan, kualitas dipertanyakan, dan cara pembeliannya pun akan menipu—mulai dari warna yang tidak sesuai hingga spesifikasi yang berbeda dari iklan. Tapi untuk harga yang ditawarkan, siapa yang peduli?
Dari delapan kandidat ini, setidaknya enam dinilai mampu membuat EV yang secara teknis kompeten. "Lebih baik dari beberapa sampah yang sudah dikeluarkan pabrikan mobil mapan," tulis penyelenggara jajak pendapat. Pertanyaannya sekarang: apakah ada di antara merek-merek ini yang benar-benar berani mengambil risiko? Atau kita harus menunggu lebih banyak lagi kegagalan dari perusahaan mobil yang sudah ada?