TANGERANG — BPBD Kabupaten Tangerang mencatat 25 kecamatan di daerah itu masuk dalam zona rawan musibah kebakaran lahan, gedung, hingga kekeringan selama musim kemarau. Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik menyebutkan potensi kebakaran mencakup lahan ilalang, gedung, hingga lapak limbah yang dikoordinir oleh pengusaha setempat.
Lima Kecamatan dengan Risiko Tertinggi Kebakaran
"Sekitar 25 kecamatan potensi kebakaran, baik lahan ilalang, gedung, maupun lapak limbah-limbah yang dikoordinir oleh pengusaha limbah," kata Achmad Taufik di Tangerang, Selasa.
Berdasarkan pemetaan riwayat kebakaran, lima kecamatan menjadi sorotan utama: Kosambi, Teluknaga, Cikupa, Curug, dan Tigaraksa. Kawasan ini didominasi industri dan pergudangan yang sangat rentan terbakar akibat suhu panas ekstrem pada musim kemarau.
Kekeringan Mulai Terasa, Satu Kecamatan Krisis Air Bersih
Selain kebakaran, dampak kemarau ekstrem yang diprediksi mirip fenomena El Nino Godzilla juga memicu kekeringan di sejumlah wilayah. Hingga saat ini, baru Kecamatan Curug yang secara resmi melaporkan krisis air bersih dan telah mendapatkan penanganan.
"Yang kelihatan saat ini kekurangan air bersih itu baru di Kecamatan Curug dan kita sudah bantu distribusi air bersih di wilayah itu. Kita selalu stay petugas-petugas kita dengan armadanya," ujar Achmad Taufik.
Sinergi Lintas Instansi untuk Suplai Air
BPBD Kabupaten Tangerang memastikan penyaluran bantuan air bersih tidak dilakukan sendiri. Jika wilayah terdampak kekeringan tidak bisa ditangani secara mandiri, BPBD akan berkoordinasi dengan PDAM dan Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pemakaman (Perkim).
"Apabila ada kekeringan, kita bantu suplai air bersih. Kemudian koordinasi dengan PDAM dan Perkim. Jadi bukan BPBD sendiri," kata dia.
BMKG: Puncak Kemarau Berlangsung Juli hingga September 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli hingga September 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air dan kondisi kesehatan.
Pada Juli, puncak kemarau mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Angka ini melonjak drastis pada Agustus, dengan 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) mengalami puncak kemarau. September menyusul dengan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan).
Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, serta sejumlah wilayah di Sulawesi, Maluku, dan Papua. Pada Agustus, puncak kemarau meluas ke Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan sebagian besar Pulau Papua.