Kawasan Anyer di Kabupaten Serang, Banten, menyimpan satu bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini, yaitu Mercusuar Cikoneng. Menara ini menjadi salah satu landmark yang identik dengan pesisir Anyer.
Selain fungsinya sebagai penunjuk arah bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda, mercusuar ini juga menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan masa kolonial dan bencana alam besar di masa lampau.
Berikut sejarah pembangunan, fungsi, dan fakta menarik seputar Mercusuar Cikoneng yang menjadi ikon wisata sejarah di Anyer.
Sejarah Panjang Mercusuar Anyer
Akar sejarah mercusuar ini cukup panjang, dengan mercusuar Anyer yang lama sudah berdiri sejak tahun 1806, jauh sebelum bangunan yang ada saat ini didirikan.
Mercusuar lama tersebut hancur pada tahun 1883 akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau yang mengguncang kawasan Selat Sunda, termasuk pesisir Anyer yang terdampak langsung oleh tsunami akibat letusan tersebut.
Sebagai penggantinya, pemerintah Hindia Belanda membangun mercusuar baru pada tahun 1885, pada masa pemerintahan Raja Willem III, dengan struktur yang lebih kokoh dibanding pendahulunya.
Spesifikasi dan Lokasi Mercusuar
Mercusuar yang berdiri sejak 1885 ini memiliki tinggi mencapai 75,5 meter, menjadikannya salah satu mercusuar tertinggi yang pernah dibangun pada masa kolonial di kawasan Selat Sunda.
Lokasinya berada di Jalan Raya Bandulu Anyer, Kilometer 131, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, sebuah titik yang strategis untuk mengawasi lalu lintas pelayaran di Selat Sunda.
Posisi strategis ini menjadikan mercusuar sebagai landmark penting yang mudah dikenali oleh kapal-kapal yang melintas, baik pada masa lampau maupun hingga saat ini.
Fungsi sebagai Penunjuk Arah Pelayaran
Sejak awal dibangun, fungsi utama Mercusuar Cikoneng adalah sebagai penunjuk arah bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda, membantu navigasi di perairan yang cukup ramai dilalui kapal dagang maupun penumpang.
Fungsi ini menjadi sangat penting mengingat posisi Selat Sunda yang merupakan jalur pelayaran strategis penghubung antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra sejak masa kolonial hingga sekarang.
Hingga kini, mercusuar ini tetap berfungsi sebagai alat bantu navigasi aktif, meski juga telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik bagi pengunjung.
Titik Nol Jalan Raya Anyer-Panarukan
Kawasan Pantai Mercusuar Anyer juga dikenal sebagai titik nol dari pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan, jalan bersejarah yang membentang dari ujung barat hingga ujung timur Pulau Jawa.
Status sebagai titik nol ini menambah nilai historis kawasan mercusuar, menjadikannya bukan sekadar objek wisata pantai biasa, tetapi juga simbol penting dalam sejarah infrastruktur Pulau Jawa.
Bagi pengunjung yang tertarik dengan sejarah, kombinasi antara mercusuar dan titik nol jalan legendaris ini menjadikan Anyer sebagai destinasi yang kaya akan nilai edukasi sejarah.
Checklist Sebelum ke Mercusuar Cikoneng
- Siapkan fisik yang cukup untuk menaiki sekitar 280 anak tangga menuju puncak
- Kunjungi menjelang sore untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dari atas mercusuar
- Bawa kamera untuk mengabadikan pemandangan Selat Sunda dari ketinggian
- Kenakan alas kaki yang nyaman mengingat tangga menara cukup curam
- Gabungkan kunjungan dengan wisata Pantai Anyer yang berada tak jauh dari lokasi
Informasi wisata dan berita seputar Banten lainnya bisa dibaca di beranda lensabanten.com.