BANTEN — Perdebatan tentang desa tertua di Indonesia kembali mencuat setelah cerita soal Desa Bagelen di Purworejo, Jawa Tengah, ramai dibicarakan. Penduduk setempat meyakini permukiman mereka sudah ada sejak abad ke-6, jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar lain berdiri di Pulau Jawa. Kisah ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi dan menjadi kebanggaan warga.
Di balik kebanggaan itu, para akademisi punya pandangan berbeda. Mereka menilai perlu pembuktian lebih lanjut sebelum menyebut Bagelen sebagai yang tertua di Nusantara.
Asal-usul Nama Bagelen dan Legenda Nyai Bagelen
Sesepuh Desa Bagelen, R Mulato (65), menuturkan nama desa berasal dari kata "Pagelen". Dalam cerita keluarga yang ia terima, Pagelen merujuk pada tempat penyimpanan abu pembakaran mayat. Seiring waktu, pengucapan kata itu berubah menjadi Bagelen karena dianggap lebih mudah diucapkan lidah orang Jawa.
Mulato meyakini permukiman Pagelen berkaitan erat dengan masa peradaban Hindu, tepatnya ketika Kerajaan Medang Kamulan dipimpin Prabu Swelacala. Dari sinilah keyakinan bahwa Desa Bagelen sudah eksis sejak abad ke-6 berawal.
"Ya karena sejarahnya dari abad ke-6 itu, mungkin dari dasar itu, Pagelen itu ya dari abad ke-6 sudah ada. Kalau kita bisa komparasi dengan Kerajaan Tarumanegara, lebih tua dari sini. Makanya bisa dikatakan tertua di Indonesia," ujarnya.
Tokoh sentral dalam legenda desa ini adalah Nyai Bagelen, yang dipercaya sebagai putri Prabu Swelacala. Sosoknya digambarkan sebagai pemimpin perempuan yang mengayomi masyarakat, mengajari bercocok tanam, dan menjadi panutan adat hingga kini.
Pandangan Sejarawan: Belum Ada Bukti Kuat
Pengamat sejarah sekaligus filolog, Dr Drs Sudibyo, menegaskan klaim tersebut belum bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Ia menjelaskan, hingga saat ini belum ditemukan sumber sejarah tertulis yang membuktikan nama Bagelen sudah dikenal sejak awal perkembangan kerajaan di Jawa.
Dua prasasti tertua yang ditemukan di sekitar wilayah itu, yakni Prasasti Kayu Ara Hiwang (901 M) dari Desa Boro Wetan dan Prasasti Watukura (902 M), sama sekali tidak menyebut nama Bagelen. Nama ini baru muncul dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis pada abad ke-18.
"Sampai saat ini saya belum menemukan sumber yang lebih tua daripada Babad Tanah Jawi mengenai Bagelen," kata Sudibyo.
Dalam naskah kuno tersebut, Pagelen digambarkan sebagai wilayah keturunan Prabu Swelacala melalui tokoh bernama Panuhun yang menjadi leluhur masyarakat Bagelen. Meski begitu, Babad Tanah Jawi ditulis berabad-abad setelah masa yang diklaim, sehingga keandalannya sebagai bukti sejarah masih diperdebatkan.
Soal Nyai Bagelen, Sudibyo juga mengingatkan bahwa belum ada bukti historis yang memastikan tokoh itu benar-benar pernah hidup. Ia lebih cenderung menilai Nyai Bagelen sebagai figur legenda.
"Sampai saat ini saya tidak memiliki bukti bahwa Nyai Ageng Bagelen merupakan sosok historis. Beliau lebih merupakan tokoh yang berasal dari legenda," ucapnya.
Bagelen dan Jejak Sejarahnya yang Terdokumentasi
Arsip tertua yang menyebut Bagelen justru berasal dari masa VOC dan Pemerintahan Hindia Belanda. Salah satunya adalah Arsip Bagelen Nomor 18 yang kini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Secara historis, Bagelen memang punya posisi strategis sejak era Mataram Islam hingga masa kolonial. Wilayah ini berfungsi sebagai penyangga pusat kekuasaan. Pada masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung, prajurit Bagelen dikenal loyal kepada raja. Saat Keraton Mataram dikuasai Trunajaya, Pangeran Puger bahkan membangun istana pengungsian di Purwaganda, wilayah yang kini masuk Kecamatan Purwodadi.
Keterlibatan prajurit Bagelen juga tercatat besar-besaran dalam Perang Jawa pada 1829 hingga awal 1830. Fakta-fakta inilah yang menurut Sudibyo lebih layak dikaji daripada sekadar mengklaim usia desa berdasarkan legenda.
Legenda yang Tetap Berharga
Kendati belum terbukti secara akademis, Sudibyo menilai kisah Nyai Bagelen tetap punya nilai penting sebagai tradisi lisan. Cerita ini merepresentasikan cara pandang masyarakat terhadap sosok perempuan yang mandiri dan emansipatif.
"Legenda itu memperlihatkan sosok perempuan yang mandiri, emansipatif, dan asertif, bahkan sejalan dengan gagasan tentang perempuan pada era modern," imbuhnya.
Bagi traveler yang tertarik menelusuri sejarah, Desa Bagelen tetap menawarkan pengalaman budaya yang menarik. Anda bisa berdialog dengan sesepuh desa untuk mendengar langsung kisah turun-temurun yang belum tentu ditemukan di tempat lain. Namun, bijaklah menyikapi klaim "desa tertua" dan bandingkan dengan catatan sejarah resmi yang ada.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai sejarah Desa Bagelen dan sekitarnya, wisatawan dapat menghubungi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo atau mengunjungi ANRI di Jakarta untuk menelusuri arsip kolonial yang tersedia.