BANTEN — Minggu pertama September 2026 menjadi penanda dua kebijakan berbeda di kawasan. Pada periode 3-9 September, Malaysia justru menurunkan harga BBM non-subsidi untuk pertama kalinya setelah dua minggu berturut-turut mengalami kenaikan. Penurunan sebesar 5 sen ringgit per liter berlaku untuk bensin RON95, RON97, dan diesel non-subsidi.
Kementerian Keuangan Malaysia menyebut penurunan ini terjadi karena harga minyak mentah global berada di tingkat yang lebih rendah selama sebagian besar periode penetapan harga. Negeri jiran menggunakan rumus Automatic Pricing Mechanism (APM) yang diperkenalkan sejak 1983 untuk menyesuaikan harga secara mingguan mengikuti fluktuasi pasar.
Perbandingan Harga Terbaru: Malaysia vs Indonesia
Setelah penyesuaian, berikut harga eceran di Malaysia untuk periode 3-9 September:
- Bensin RON95: 3,77 ringgit per liter (setara Rp16.497)
- Bensin RON97: 4,25 ringgit per liter (setara Rp18.597)
- Diesel non-subsidi: 4,67 ringgit per liter (setara Rp20.435)
Sebagai perbandingan, penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia berlaku untuk produk Pertamina dengan rincian: Pertamax Green 95 naik dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter, Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter, Dexlite naik dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, dan Pertamina Dex naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.
Kenapa Harga Berbeda dan Siapa yang Terdampak
Perbedaan arah kebijakan ini perlu dipahami secara jernih. Malaysia menerapkan mekanisme harga mengambang yang dievaluasi setiap pekan berdasarkan pergerakan pasar global. Sementara Indonesia memilih menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil di angka yang ditetapkan pemerintah, dan hanya menyesuaikan produk nonsubsidi mengikuti biaya produksi dan kurs.
Bagi rumah tangga yang mengandalkan kendaraan pribadi berbahan bakar nonsubsidi—biasanya mobil pribadi atau kendaraan usaha—kenaikan ini langsung berdampak pada ongkos transportasi. Namun penting digarisbawahi: BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami perubahan harga. Kelompok yang selama ini membeli Pertalite atau Solar bersubsidi tidak akan merasakan beban tambahan dari kebijakan ini.
Pasar Global Masih Bergejolak, Waspada Kenaikan Lanjutan
Kementerian Keuangan Malaysia mencatat pasar produk minyak bumi olahan global masih mengalami pengetatan pasokan. Gangguan arus minyak melalui Selat Hormuz, berkurangnya kapasitas kilang di sejumlah negara, dan pembatasan ekspor bahan bakar menjadi pemicu utama.
"Faktor-faktor ini diperkirakan akan terus menyebabkan volatilitas harga dalam waktu dekat," demikian pernyataan Kementerian Keuangan Malaysia.
Artinya, baik Malaysia maupun Indonesia sama-sama menghadapi ketidakpastian harga energi global. Konsumen yang menggunakan BBM nonsubsidi disarankan menghitung ulang anggaran transportasi bulanan, sementara pengguna BBM bersubsidi tetap bisa mengakses bahan bakar dengan harga yang sama seperti sebelumnya.