Pencarian

Sejarah Singkat Banten: Dari Masa Lampau hingga Kini, Jejak Kerajaan hingga Provinsi Modern

Kamis, 16 Juli 2026 • 19:49:01 WIB
Sejarah Singkat Banten: Dari Masa Lampau hingga Kini, Jejak Kerajaan hingga Provinsi Modern
Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara di Lebak dan Pandeglang menjadi bukti awal peradaban di Banten sejak abad ke-5 Masehi.

Di ujung barat Pulau Jawa, Banten bukan sekadar wilayah penyangga Jakarta. Di sini, napas sejarah terasa dari pesisir pantai hingga pedalaman. Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara, yang ditemukan di daerah Lebak dan Pandeglang, menjadi bukti awal peradaban di tanah ini sudah ada sejak abad ke-5 Masehi. Bagi warga lokal, nama-nama seperti Cibaduyut dan Ciaruteun bukan sekadar geografis, melainkan saksi bisu masa lampau yang kerap terlewatkan dalam buku pelajaran.

Artikel ini akan mengupas tujuh fase kunci: dari era kerajaan Hindu-Buddha, masa keemasan Kesultanan Banten, kolonialisme Belanda, hingga transformasinya menjadi provinsi pada tahun 2000. Bagi perantau yang baru pindah ke Serang atau Tangerang, memahami akar sejarah ini membantu membaca peta sosial dan budaya yang masih hidup hingga kini.

1. Era Kerajaan Tarumanagara dan Sunda (Abad ke-5 hingga ke-16)

Wilayah Banten bagian selatan, khususnya di Kabupaten Lebak dan Pandeglang, menyimpan prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Prasasti Ciaruteun, misalnya, ditemukan di aliran sungai dekat Bogor, namun pengaruhnya menjangkau hingga pesisir Banten. Kerajaan Sunda kemudian menguasai wilayah ini, dengan pelabuhan penting di Banten Girang yang menjadi pintu masuk perdagangan lada.

Pelabuhan ini menjadi rebutan karena letaknya strategis di Selat Sunda. Para pedagang dari Gujarat, Tiongkok, dan Arab sudah singgah jauh sebelum Islam masuk. Jejak masa ini masih bisa dilihat dari artefak gerabah dan struktur bata kuno yang kadang muncul saat warga menggali sumur di kampung-kampung tua.

2. Berdirinya Kesultanan Banten (1526–1680)

Kesultanan Banten resmi berdiri ketika Sunan Gunung Jati dari Cirebon, bersama putranya Maulana Hasanuddin, menaklukkan Banten Girang pada 1526. Maulana Hasanuddin menjadi sultan pertama. Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683), kesultanan ini mencapai puncak kejayaan.

Sultan Ageng membangun armada laut yang kuat dan menjadikan Banten sebagai pusat perdagangan internasional yang menyaingi Batavia (kini Jakarta). Komoditas utamanya lada, cengkih, dan pala. Istana Surosowan di Banten Lama menjadi pusat pemerintahan yang megah, dengan sistem irigasi dan kanal yang canggih untuk ukuran zamannya.

3. Perlawanan terhadap VOC dan Kemunduran (1680–1813)

Konflik internal keluarga kerajaan menjadi celah yang dimanfaatkan VOC. Sultan Ageng Tirtayasa harus berhadapan dengan putranya sendiri, Sultan Haji, yang bersekutu dengan Belanda. Pada 1683, Sultan Ageng ditangkap dan dipenjarakan di Batavia. Ini menjadi titik balik.

VOC perlahan menggerogoti kekuasaan kesultanan. Pelabuhan Banten kehilangan pamor karena Belanda memonopoli perdagangan. Kesultanan Banten akhirnya dihapuskan secara resmi oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1813, setelah wilayahnya dikuasai Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles. Banten menjadi bagian dari Karesidenan Banten yang berpusat di Serang.

4. Masa Kolonial Belanda (1813–1942)

Di bawah pemerintahan kolonial, Banten menjadi daerah penghasil kopi dan lada yang dieksploitasi. Sistem tanam paksa (cultuurstelsel) diterapkan, memicu perlawanan petani. Salah satu pemberontakan terkenal adalah Peristiwa Cilegon 1888, yang dipimpin oleh para ulama dan petani melawan kebijakan kolonial yang menindas.

Jalur kereta api dibangun untuk mengangkut hasil bumi ke Pelabuhan Anyer dan Merak. Sisa-sisa rel tua masih bisa ditemukan di beberapa titik di Serang dan Cilegon. Pada masa ini, Banten juga menjadi basis pergerakan nasional, meskipun tidak sekuat di Jawa Tengah atau Jawa Timur.

5. Pendudukan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan (1942–1950)

Jepang masuk ke Banten pada 1942. Masa pendudukan singkat namun pahit, dengan kerja paksa (romusha) yang memakan banyak korban. Setelah proklamasi kemerdekaan 1945, Banten menjadi salah satu basis perjuangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melawan Belanda yang ingin kembali berkuasa.

Pertempuran di daerah Serang dan Pandeglang cukup sengit. Tokoh lokal seperti KH. Syam'un dan KH. Tubagus Ahmad Chatib memimpin laskar rakyat. Pada 1949, Banten resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah pengakuan kedaulatan.

6. Era Orde Lama dan Orde Baru (1950–1998)

Setelah kemerdekaan, Banten menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pembangunan infrastruktur mulai digenjot, terutama kawasan industri di Cilegon. Krakatau Steel, pabrik baja terbesar di Indonesia, didirikan pada 1970-an dan menjadi tulang punggung ekonomi Banten.

Namun, ketimpangan pembangunan antara Banten dan wilayah lain di Jawa Barat memicu gerakan aspirasi pembentukan provinsi sendiri. Masyarakat merasa identitas budaya dan sejarah Banten berbeda dengan Sunda Priangan. Tokoh-tokoh seperti KH. Tb. Chasan Sochib dan Nyai Hj. Siti Latifah giat memperjuangkan hal ini.

7. Lahirnya Provinsi Banten (2000–Sekarang)

Setelah reformasi 1998, aspirasi pemekaran provinsi menguat. Pada 17 Oktober 2000, Presiden Abdurrahman Wahid meresmikan Provinsi Banten sebagai provinsi ke-30 di Indonesia. Serang ditetapkan sebagai ibu kota. Provinsi ini terdiri dari empat kota (Serang, Cilegon, Tangerang, Tangerang Selatan) dan empat kabupaten (Pandeglang, Lebak, Tangerang, Serang).

Kini, Banten menjelma menjadi wilayah strategis dengan Bandara Soekarno-Hatta, Pelabuhan Merak, dan kawasan industri modern. Namun, jejak sejarahnya tetap terawat. Benteng Speelwijk di Banten Lama, Masjid Agung Banten, dan Keraton Kaibon masih berdiri sebagai pengingat masa lalu yang gemilang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa peninggalan Kerajaan Tarumanagara yang ada di Banten?
Prasasti-prasasti seperti Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi ditemukan di wilayah Banten selatan (Lebak dan Pandeglang). Ini menjadi bukti awal peradaban Hindu-Buddha di ujung barat Jawa.

Siapa sultan paling terkenal dari Kesultanan Banten?
Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683). Ia dikenal karena perlawanannya terhadap VOC dan berhasil membawa Banten ke puncak kejayaan sebagai pusat perdagangan internasional.

Kapan Banten resmi menjadi provinsi?
17 Oktober 2000, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Ini menjadikan Banten provinsi termuda di Pulau Jawa.

Apa penyebab runtuhnya Kesultanan Banten?
Konflik internal keluarga kerajaan yang dimanfaatkan VOC, ditambah tekanan ekonomi akibat monopoli perdagangan Belanda. Puncaknya, sultan terakhir ditaklukkan pada 1813.

Apakah Keraton Surosowan masih ada?
Ya, reruntuhan Istana Surosowan di Banten Lama (Kota Serang) masih bisa dikunjungi. Meski tidak utuh, situs ini menjadi destinasi wisata sejarah populer.

Banten bukan sekadar wilayah lintasan. Dari prasasti di Lebak hingga kawasan industri Cilegon, setiap sudutnya menyimpan cerita. Bagi perantau yang baru menginjakkan kaki di sini, mengenal sejarahnya adalah cara paling jujur untuk memahami denyut nadi provinsi yang terus berubah ini.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks