SERANG — Keramaian wisatawan di Pantai Anyer dan Carita tak surut meski Gunung Anak Krakatau (GAK) dinaikkan statusnya menjadi Siaga. Pemerintah Provinsi Banten justru memanfaatkan momen ini untuk mengintensifkan langkah mitigasi, terutama terhadap ancaman tsunami yang mungkin dipicu oleh aktivitas gunung api tersebut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, menegaskan bahwa evakuasi warga tidak akan serta-merta dilakukan hanya karena terjadi erupsi. Keputusan mengungsi baru akan diambil jika ada indikasi nyata potensi tsunami berdasarkan analisis resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Jendela Evakuasi 40 Menit dan Pelatihan Balawista
Lutfi menjelaskan, jika erupsi benar-benar berpotensi memicu tsunami, masyarakat di pesisir memiliki waktu sekitar 40 menit untuk menyelamatkan diri. “Mitigasi sudah kita lakukan sejak awal tahun, bahkan kita perkuat pasca level III status GAK,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
BPBD Provinsi Banten terus berkoordinasi dengan PVMBG, BMKG, TNI, Polri, dan pemerintah kabupaten/kota. Pelatihan juga diberikan kepada Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) agar proses evakuasi berjalan cepat jika situasi memburuk. Lutfi mengimbau masyarakat tidak panik, karena pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas wisata di Anyer-Cinangka masih berlangsung normal.
Morfologi Gunung Berbeda dengan 2018, PVMBG Tak Ubah Rekomendasi
Pengamat Gunung Api PVMBG di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Anggi Nuryo Saputro, menyebutkan bahwa kondisi gunung saat ini berbeda dengan sebelum tsunami Selat Sunda 2018. Kala itu, tinggi tubuh gunung mencapai 337 meter di atas permukaan laut (mdpl) sebelum longsor. Kini, tinggi GAK hanya sekitar 158 mdpl.
“Kalau berdasarkan kajian para ahli, potensinya berbeda dengan tahun 2018. Dulu tinggi gunung sekitar 337 mdpl, sedangkan sekarang 158 mdpl, sehingga kondisinya tidak sama,” kata Anggi. Meski begitu, ia menegaskan bahwa rekomendasi PVMBG belum berubah: masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Anggi menambahkan, sepanjang sejarah pemantauan, Gunung Anak Krakatau belum pernah berstatus Level IV (Awas). Bahkan saat longsoran Desember 2018 yang memicu tsunami, statusnya tetap Siaga. “Semua informasi resmi dapat diakses melalui MAGMA Indonesia,” ujarnya.
Wisatawan dan Pelaku Usaha: “Kami Tetap Datang”
Di Pantai Bandulu, Abdul Malik (42), wisatawan asal Bekasi yang datang bersama rombongan Universitas Pancasila, mengaku perjalanan sudah direncanakan sebulan sebelumnya. “Saya lihat kondisinya masih aman, belum ada masalah apa-apa,” katanya. Hal serupa disampaikan Marlian (39) dari Bogor yang tetap membawa 28 anggota komunitas senamnya ke pantai, meski mengetahui status siaga GAK.
Di Pantai Pandan, Carita, Jonelisa (18), pelajar asal Nabire yang kuliah di Tangerang, mengaku tetap menikmati liburan setelah melihat banyak wisatawan lain berdatangan. “Saya tahu informasi Gunung Anak Krakatau dari media sosial. Tapi setelah melihat masih banyak wisatawan yang berlibur ke Carita, kami tetap datang,” tuturnya.
Petugas penjualan tiket Pantai Bandulu, Maria Ulfah, mencatat hingga siang hari ada sekitar 10 bus rombongan dan 15 kendaraan pribadi yang masuk. Pada akhir pekan, jumlahnya bisa mencapai 30 hingga 50 bus. “Pengunjung tetap ramai. Peningkatan status Gunung Anak Krakatau tidak berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan,” pungkasnya.