BANTEN — Data awal dari China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan penjualan BEV dan PHEV pada Juni 2026 mencapai sekitar 1,04 juta unit. Angka ini memang masih tinggi secara absolut, tetapi jika dibandingkan dengan Juni 2025, realisasinya lebih rendah 7 persen. Tren negatif ini sudah terlihat sejak kuartal pertama, dan akumulasi penjualan semester pertama mengonfirmasi perlambatan yang lebih dalam dari prediksi analis.
Dua Faktor Utama Pemicu Lesunya Pasar
Kondisi ekonomi domestik China yang belum pulih total menjadi faktor pertama. Banyak konsumen memilih menunda pembelian kendaraan baru, menunggu kemungkinan penurunan harga lebih lanjut dari para produsen yang saling perang diskon. Faktor kedua adalah keputusan pemerintah China yang mulai mengurangi dukungan fiskal untuk kendaraan energi baru.
Mulai 1 Januari 2027, insentif pajak tahunan untuk BEV, PHEV, range extender hybrid, hingga kendaraan niaga berbasis fuel cell akan dipangkas. Meskipun nilai pemangkasannya relatif kecil, yakni sekitar 360 yuan hingga 660 yuan per tahun (setara USD 53 hingga USD 97), kebijakan ini dinilai cukup memengaruhi psikologis konsumen yang sudah sensitif terhadap harga.
Hanya Tiga Pemain yang Untung, Konsolidasi Menanti
Profitabilitas masih menjadi momok bagi industri mobil listrik China. Laporan lembaga konsultan AlixPartners menyebutkan bahwa saat ini hanya tiga produsen yang secara konsisten mencatatkan keuntungan: BYD, Xiaomi, dan Leapmotor. Sisanya, mayoritas masih beroperasi dengan kerugian.
AlixPartners memperkirakan hanya sekitar empat produsen lainnya yang berpeluang mencapai titik impas sebelum 2030. Perusahaan dengan kinerja keuangan lebih lemah diprediksi akan menghadapi konsolidasi, baik melalui akuisisi oleh pemain besar maupun penghentian operasional. Ini menjadi sinyal bahwa era pertumbuhan cepat mobil listrik China mulai bergeser ke fase seleksi alam.
Ekspor Jadi Jurus Penyelamat, Target 10 Juta Unit di 2026
Untuk mengompensasi pelemahan domestik, produsen otomotif China kini semakin agresif menggarap pasar internasional. Para analis memperkirakan total ekspor kendaraan dari China bisa menembus 10 juta unit sepanjang 2026. Angka ini melonjak sekitar 41 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Strategi ekspansi global dinilai menjadi langkah krusial untuk menjaga volume penjualan sekaligus meningkatkan profitabilitas. Dengan kompetisi yang semakin ketat di dalam negeri dan subsidi yang mulai dicabut, pasar luar negeri menjadi satu-satunya jalan bagi banyak produsen untuk bertahan dan tumbuh.