CILEGON — Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Banten Novriyadi Purwansyah turut hadir mendampingi Gubernur Andra Soni dalam pembukaan Popda XII di Stadion Geger Cilegon, Kamis. Kehadiran kepala OPD itu menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pembinaan olahraga pelajar.
Popda XII dan Peparpeda IX berlangsung pada 11 hingga 17 Juni 2026 dengan Kota Cilegon sebagai tuan rumah. Sebanyak 1.096 medali diperebutkan, terdiri dari 320 medali emas, 320 medali perak, dan 456 medali perunggu. Pertandingan meliputi 26 cabang olahraga mulai dari atletik, renang, bulutangkis, hingga wushu, yang tersebar di 20 venue di Kota Cilegon.
Modal Awal Menuju PON 2032 di Banten
Gubernur Andra Soni menyampaikan optimisme tinggi terhadap masa depan olahraga Banten. Optimisme itu didasari capaian atlet pelajar Banten yang berhasil menempati peringkat kelima nasional pada Popnas — prestasi terbaik sepanjang sejarah keikutsertaan provinsi ini.
“Popda bukan sekadar ajang meraih medali. Ini adalah proses pembinaan karakter, pembentukan disiplin, mental juang, sekaligus wadah untuk menemukan dan mengembangkan talenta-talenta muda terbaik Banten,” kata Andra Soni di hadapan ribuan atlet.
Ia menegaskan, bakat saja tidak cukup. Diperlukan komitmen, disiplin, kerja keras, kepatuhan kepada pelatih, sportivitas, serta latihan yang dilakukan secara konsisten. Atlet-atlet yang berlaga pada Popda dan Peparpeda tahun ini merupakan bagian dari persiapan jangka panjang menuju Popnas 2027, PON 2028, hingga PON XXXII Tahun 2032 di mana Banten dan Lampung menjadi tuan rumah.
Pembinaan Berjenjang, Bukan Instan
“Persiapan atlet-atlet juara untuk PON 2032 harus dimulai dari sekarang. Prestasi olahraga tidak lahir secara instan, tetapi dibangun melalui proses pembinaan yang panjang dan konsisten,” ujar Andra Soni.
Gubernur juga mengingatkan para ofisial dan pendamping agar menjadi teladan dalam menjunjung tinggi disiplin dan sportivitas. Seluruh pihak diminta menerima hasil pertandingan dengan sikap dewasa dan menjadikan kompetisi sebagai sarana pembelajaran serta penguatan karakter.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa prestasi olahraga merupakan hasil kerja bersama. Atlet, pelatih, orang tua, sekolah, cabang olahraga, KONI, pemerintah daerah, dunia usaha, media, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem olahraga yang sehat dan berprestasi. “Olahraga telah menjadi salah satu indikator daya saing daerah. Karena itu seluruh kepala daerah perlu terus memperkuat pembinaan olahraga di wilayah masing-masing,” katanya.
Untuk mendukung pelaksanaan pertandingan, panitia melibatkan 718 petugas yang terdiri dari 26 Technical Delegate, 26 Ketua Pertandingan, 26 Dewan Hakim, 307 wasit/juri, serta 333 petugas pendukung lainnya.