Pencarian

Pertamina Tahan Harga Pertalite dan Biosolar, Energy Watch Sebut Kebijakan Tepat Sasaran Jadi Kunci

Jumat, 12 Juni 2026 • 23:55:31 WIB
Pertamina Tahan Harga Pertalite dan Biosolar, Energy Watch Sebut Kebijakan Tepat Sasaran Jadi Kunci
Pertamina mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar di tengah kenaikan harga Pertamax.

BANTEN — Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green resmi berlaku. Di saat yang sama, Pertamina memilih tidak mengutak-atik harga Pertalite dan Biosolar. Keputusan ini, menurut Energy Watch, adalah kompromi yang realistis di tengah tekanan harga minyak global dan pelemahan rupiah.

Subsidi Tepat Sasaran Jadi Syarat Mutlak

Olo Berto Siahaan, Direktur Eksekutif Energy Watch, mengingatkan bahwa keberadaan BBM subsidi hanya akan efektif jika penggunaannya diawasi ketat. "Tentu saja keberadaan BBM subsidi yakni Pertalite dan Solar bisa menjadi pilihan masyarakat yang berhak menerima subsidi," ujarnya di Jakarta, Jumat.

Dia secara khusus meminta kelompok masyarakat mampu untuk tidak beralih ke Pertalite atau Biosolar. Alasannya, perpindahan konsumen dari segmen atas ke BBM subsidi akan membuat penyaluran tidak tepat sasaran dan membebani keuangan negara.

Mengapa Pertamina Akhirnya Naikkan Harga Pertamax?

Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green, menurut Berto, adalah langkah yang sudah lama tertunda. Sejak April 2026, Pertamina menahan harga dua produk nonsubsidi itu. Namun, tekanan dari harga minyak dunia dan biaya impor yang membengkak akhirnya tak bisa dihindari.

"Kebijakan ini juga penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi dan kesehatan industri hilir migas," tambah Berto. Ia menilai jika Pertamina terus menahan harga, kondisi finansial perusahaan akan terganggu dan investasi di sektor energi terancam.

Langkah ini juga sesuai dengan Kepmen ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang menyebut harga jual BBM nonsubsidi harus mengikuti perkembangan pasar energi global. Sebagian besar pasokan Pertamax berasal dari impor, sehingga sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan geopolitik.

Perbandingan Harga: Masih Lebih Murah dari Filipina dan Singapura

Berto membandingkan harga BBM Indonesia dengan negara tetangga untuk menunjukkan bahwa penyesuaian ini masih dalam batas wajar. Di Filipina, BBM RON 91 dijual setara Rp24.763 per liter dan RON 95 sebesar Rp25.160 per liter. Sementara di Singapura, harga RON 92 mencapai Rp47.269 per liter dan RON 95 tembus Rp47.815 per liter.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa harga BBM nonsubsidi di Indonesia masih kompetitif. Namun, perbandingan ini tidak serta-merta meredakan kekhawatiran publik tentang daya beli di tengah tekanan ekonomi.

DEN: Kenaikan Harga Pertamax Langkah Korporasi yang Wajar

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mendukung penyesuaian ini. Ia menyebutnya sebagai langkah korporasi yang wajar karena Pertamax dan Pertamax Green adalah BBM nonsubsidi.

Satya menambahkan, pemerintah sebelumnya sudah berusaha menahan harga. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia yang masih tinggi membuat penundaan lebih lanjut tidak mungkin. Jika terus dipaksakan, kata dia, beban fiskal dan APBN akan membengkak dan berujung pada defisit anggaran yang lebih besar.

Bagikan
Sumber: antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks