SERANG — Penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai di Banten terus menunjukkan tren positif di awal tahun. Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Kemenkeu Banten, Muhammad Hakim Satria, mengungkapkan bahwa kenaikan ini terutama ditopang oleh kinerja positif cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan hasil tembakau.
Bea Masih Jadi Kontributor Terbesar, Capai Rp3,38 Triliun
Dari total penerimaan Rp4,55 triliun, komponen Bea Masuk menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai Rp3.385,52 miliar. Angka ini tetap tercatat tinggi meskipun terjadi penurunan importasi pada sejumlah komoditas seperti kimia dasar organik, biji kakao, makanan olahan, kapal laut, dan tembaga.
Sementara itu, sektor Cukai menyumbang penerimaan sebesar Rp1.156,53 miliar. Kenaikan ini menjadi motor utama pertumbuhan penerimaan DJBC Banten pada periode tersebut. Adapun Bea Keluar tercatat menyumbang angka yang lebih kecil, yakni Rp10,88 miliar, yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas kelapa sawit dan produk turunannya di pasar global.
Neraca Dagang Banten: Impor Masih Dominan, Ekspor Perhiasan Melemah
Selain penerimaan, DJBC Banten juga mencatat kondisi neraca perdagangan provinsi pada April 2026. Nilai ekspor tercatat sebesar 1,21 miliar dolar AS, sementara nilai impor mencapai 4,37 miliar dolar AS. Defisit ini disebabkan oleh pelemahan nilai ekspor pada komoditas barang perhiasan dan barang berharga, pesawat udara dan bagiannya, serta mesin untuk keperluan khusus.
Di sisi lain, tren kenaikan nilai impor lebih banyak didominasi oleh masuknya komoditas penunjang aktivitas harian dan industri. Komoditas tersebut meliputi hasil minyak, komputer dan perlengkapannya, serta peralatan komunikasi. Hal ini mengindikasikan bahwa roda industri dan konsumsi di Banten masih bergerak dinamis meskipun ada tekanan di sektor ekspor tertentu.
Apa yang Mendorong Kenaikan Penerimaan Cukai di Banten?
Kenaikan penerimaan cukai, khususnya dari MMEA dan hasil tembakau, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi dan konsumsi di sektor tersebut. DJBC Banten mencatat bahwa target penerimaan cukai yang lebih tinggi di tahun 2026 menjadi faktor utama pendorong capaian ini. Realisasi yang mencapai lebih dari seperempat target di kuartal pertama menjadi sinyal positif bagi pencapaian APBN di akhir tahun.