Pencarian

Pariwisata Sumbang Rp 1.139 Triliun ke PDB 2025, Kuliner Jadi Motor Utama

Sabtu, 05 September 2026 • 10:04:01 WIB
Pariwisata Sumbang Rp 1.139 Triliun ke PDB 2025, Kuliner Jadi Motor Utama
Kontribusi langsung pariwisata terhadap PDB diproyeksikan mencapai Rp1.139 triliun pada 2025.

BANTEN — Setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan saat liburan ternyata punya dampak besar terhadap ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui laporan Tourism Satellite Account (TSA) Indonesia 2023–2025 mencatat tren pertumbuhan yang konsisten di sektor ini, meski lajunya belum bisa disebut "ngebut".

Kontribusi Langsung Pariwisata ke PDB: Tembus Rp 1.100 Triliun

BPS menggunakan indikator Tourism Direct Gross Domestic Product (TDGDP) untuk mengukur kontribusi langsung sektor pariwisata. Angkanya merangkak stabil dari Rp975 triliun pada 2023, menjadi Rp1.057 triliun di 2024, dan mencapai Rp1.139 triliun pada 2025. Porsinya terhadap total ekonomi nasional juga naik dari 4,67 persen menjadi 4,78 persen.

Indikator lain, Tourism Direct Gross Value Added (TDGVA), menunjukkan sinyal yang lebih positif. Pangsa nilai tambahnya naik dari 4,70 persen ke 4,89 persen—lebih tinggi dibanding pertumbuhan TDGDP. Artinya, pelaku usaha pariwisata tidak hanya kebanjiran jumlah wisatawan, tetapi juga semakin efisien dan produktif, misalnya lewat diversifikasi produk wisata dan pemanfaatan teknologi digital untuk promosi.

Kuliner, Akomodasi, dan Transportasi: Tiga Mesin Utama Pariwisata

Jika dirinci, ada satu sektor yang paling diuntungkan dari aktivitas liburan: jasa makanan dan minuman. Sektor ini menyumbang 36,20 persen dari total Gross Value Added of Tourism Industries (GVATI) yang mencapai Rp1.558,6 triliun pada 2025. Angka ini wajar—hampir tidak ada perjalanan wisata yang dilewati tanpa mencicipi kuliner khas daerah.

Di posisi berikutnya ada jasa akomodasi (hotel, homestay, villa) dan jasa angkutan udara penumpang. Ketiganya menjadi "mesin utama" yang menggerakkan roda ekonomi pariwisata nasional.

25,9 Juta Lapangan Kerja: Pariwisata sebagai Pabrik Kesempatan

Sifat pariwisata yang padat karya membuatnya menjadi salah satu sektor strategis penyerap tenaga kerja. Data BPS mencatat jumlah tenaga kerja di sektor ini bertambah sekitar 1,5 juta orang dalam tiga tahun terakhir—dari 24,4 juta orang (2023) menjadi 25,9 juta orang pada 2025.

Penyerapan tenaga kerja ini tidak merata di semua subsektor. Penyediaan makan dan minum kembali menjadi juara dengan porsi 40,44 persen dari total tenaga kerja pariwisata. Disusul perdagangan barang-barang pariwisata seperti suvenir dan oleh-oleh (39,13 persen), serta angkutan darat penumpang yang menyumbang sekitar 9,18–9,69 persen.

Catatan Penting: Pariwisata Tumbuh, Sektor Lain Tumbuh Lebih Cepat

Ada satu hal yang perlu dicermati. Meski nilai GVATI melesat dari Rp1.301 triliun (2023) menjadi Rp1.558,6 triliun (2025), porsinya terhadap ekonomi nasional justru sedikit turun menjadi 6,83 persen. Ini menandakan bahwa sektor-sektor lain di luar pariwisata—seperti manufaktur atau pertambangan—tumbuh lebih cepat.

Bagi traveler, kondisi ini tidak mengurangi daya tarik liburan di dalam negeri. Justru dengan semakin efisiennya pelaku usaha wisata, pengalaman yang ditawarkan bisa semakin beragam dan berkualitas. Sebelum berangkat, pastikan untuk mengecek informasi terbaru mengenai destinasi dan tarif layanan melalui kanal resmi dinas pariwisata setempat atau platform pemesanan terpercaya.

Follow lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: vibizmedia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks