Pencarian

474 Siswa Prasejahtera Mulai Sekolah di Sekolah Rakyat Pandeglang, Wagub Banten: Jaga Kualitas Gurunya

Sabtu, 29 Agustus 2026 • 09:16:01 WIB
474 Siswa Prasejahtera Mulai Sekolah di Sekolah Rakyat Pandeglang, Wagub Banten: Jaga Kualitas Gurunya
Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Pandeglang, Jumat (28/8/2026).

PANDEGLANG — Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah meminta jajaran pengelola Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Pandeglang untuk fokus pada peningkatan kualitas tenaga pendidik, bukan hanya mengandalkan bangunan fisik. Pesan ini disampaikannya saat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di kompleks sekolah tersebut, Jumat (28/8/2026).

“Sekolah ini harus dirawat dan dijaga. Saya meminta kepada kepala sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk para gurunya,” ujar Dimyati di hadapan para pendidik dan siswa.

Kapasitas 540 Siswa, SD Masih Buka Kuota

Kepala SRT 1 Kabupaten Pandeglang, Siwi Astuti, merinci bahwa 474 siswa yang terdaftar berasal dari tiga wilayah, yakni Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Tangerang Selatan. Sekolah menargetkan enam rombongan belajar untuk masing-masing jenjang SD, SMP, dan SMA, sehingga kapasitas maksimalnya mencapai 540 siswa.

Meski begitu, pendaftaran untuk jenjang SD masih terbuka. “Untuk SD masih ada kekurangan karena kadang anaknya belum mau atau orang tuanya belum tega melepas anak mereka (ke asrama),” jelas Siwi.

Fasilitas Lengkap di Lahan Hibah 11,3 Hektare

Kompleks SRT 1 Pandeglang dibangun di atas lahan seluas 11,3 hektare yang merupakan hibah dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Pembangunan fisiknya didukung penuh oleh alokasi anggaran dari pemerintah pusat.

Di dalam kompleks tersebut terdapat 36 ruang kelas serta fasilitas asrama terpadu. Usai meresmikan MPLS, Dimyati sempat meninjau langsung ruang kelas dan asrama guru untuk memastikan kesiapan operasional sekolah.

Keringanan Beban Orang Tua: “Semua Gratis”

Kehadiran sekolah berasrama ini langsung dirasakan manfaatnya oleh Ahmad Saruri (32), warga Kampung Pasir Kuntul, Pandeglang. Pria yang bekerja sebagai kuli bangunan ini menyekolahkan putrinya, Nur Hikmah, di jenjang SMP SRT 1.

“Saya merasa senang. Di sini semua gratis, jadi saya tidak terlalu memikirkan biaya sehari-hari anak di sekolah,” tutur Saruri. Ia berharap anak keduanya yang masih duduk di kelas 3 SD kelak bisa mendapatkan kesempatan serupa.

Harapan yang sama disampaikan seorang ibu asal Desa Kananga, Kecamatan Menes. Putrinya, Kirania Iktiba, juga diterima di jenjang SMP. “Mudah-mudahan anak saya betah, bisa dibimbing dan dibina menjadi anak yang mandiri dan berguna bagi lingkungan sekitarnya,” ucapnya.

Matrikulasi Tiga Bulan Sebelum Belajar Penuh

Setelah MPLS yang dijadwalkan berlangsung hingga 11 September 2026, para siswa tidak langsung mengikuti pembelajaran reguler. Mereka akan menjalani program matrikulasi selama tiga bulan sebagai bagian dari persiapan mental dan akademik.

Siwi menambahkan, operasional sekolah tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga membangun kemandirian siswa secara utuh. Hal ini dinilai penting karena para siswa tinggal di asrama, jauh dari pengawasan langsung orang tua.

Follow lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: fixsnews.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks