Pencarian

KKN UNS Ngawi Ajak Petani Ubah Lamtoro dan Kulit Pisang Jadi Pupuk Cair, Begini Caranya

Selasa, 18 Agustus 2026 • 00:23:31 WIB
KKN UNS Ngawi Ajak Petani Ubah Lamtoro dan Kulit Pisang Jadi Pupuk Cair, Begini Caranya
Mahasiswa KKN UNS mendemonstrasikan pembuatan pupuk organik cair dari daun lamtoro dan kulit pisang kepada petani di Desa Kasreman, Ngawi.

BANTEN — Ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya fluktuatif menjadi persoalan klasik di daerah. Menjawab tantangan itu, mahasiswa KKN UNS tidak hanya memberikan teori, tetapi mengajak petani praktik langsung meracik pupuk dari limbah organik yang selama ini kerap dibuang begitu saja.

Redi, selaku narasumber dalam pelatihan tersebut, mendemonstrasikan tahapan pembuatan POC mulai dari penyiapan bahan, pencampuran, hingga proses fermentasi. Bahan utamanya cukup sederhana: daun lamtoro yang kaya nitrogen, pelepah dan kulit pisang sebagai sumber kalium, serta air tepung beras yang berfungsi sebagai karbon untuk menstimulasi aktivitas mikroorganisme.

Fermentasi Dua Pekan dan Uji Coba ke Tanaman Jeruk

Setelah semua bahan dicampur, larutan disimpan dalam wadah tertutup selama kurang lebih dua pekan. Selama periode itu, mikroorganisme mengurai bahan organik menjadi senyawa sederhana yang lebih mudah diserap tanaman.

Hasilnya, POC yang difermentasi menunjukkan warna cokelat dengan aroma asam yang menyengat—tanda proses berjalan baik tanpa pembusukan. Pada Sabtu (1/8/2026), pupuk cair ini diaplikasikan pada dua tanaman jeruk milik warga sebagai bagian dari praktik lapangan.

Arina Madu, penggagas program kerja pelatihan POC, menegaskan bahwa target kegiatan ini adalah kemandirian petani. "Kami ingin memberikan pengetahuan yang tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga bisa langsung dipraktikkan. Bahan-bahannya mudah ditemukan, sehingga masyarakat dapat membuat POC secara mandiri," ujarnya.

Menekan Biaya Produksi dan Mendukung Pertanian Berkelanjutan

Ketua KKN 184 Desa Kasreman, Fadiilah Nur Rohmah, menambahkan bahwa program ini menjadi sarana belajar bersama antara mahasiswa dan warga. Ia berharap keterampilan ini terus dikembangkan, terutama karena bahan baku melimpah di lingkungan sekitar.

Para petani yang terlibat menyambut positif inisiatif ini. Mereka berpartisipasi aktif sejak menyiapkan bahan hingga mengaplikasikan POC ke tanaman. Ke depan, warga diharapkan melakukan pengamatan berkala terhadap perkembangan tanaman jeruk yang telah diberi pupuk organik, sehingga hasilnya bisa dievaluasi untuk diterapkan pada komoditas lain.

Program ini sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 2 tentang Zero Hunger melalui penguatan praktik pertanian lokal, SDG 12 tentang Responsible Consumption and Production lewat pemanfaatan limbah organik, serta SDG 15 tentang Life on Land. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat ini juga menjadi wujud nyata SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi laboratorium hidup untuk mengasah kemampuan komunikasi dan kerja sama di tengah masyarakat—pengalaman yang tidak selalu didapat di bangku kuliah.

Follow lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: joglosemarnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks