BANTEN — Bulkhead Interactive, studio di balik Battalion: 1944, memilih strategi pemasaran yang jarang ditemui di industri. Dalam video resmi yang diunggah ke YouTube, mereka mengumumkan tanggal rilis Early Access Wardogs sekaligus daftar lengkap kekurangan game tersebut. "Before the hype train gets out of control, we want to do something most AAA marketing teams would tell their dev teams to never do—give you 10 legitimate reasons why you should not buy Wardogs," ujar perwakilan Bulkhead dalam video tersebut.
Daftar Alasan yang Justru Jujur Soal Kekurangan Game
Sepuluh poin yang dipaparkan Bulkhead mencakup aspek teknis hingga finansial. Beberapa di antaranya adalah minimnya konten Early Access, harga yang dianggap tinggi untuk tahap pengembangan, hingga potensi penurunan jumlah pemain seiring waktu. Satu poin yang paling menarik perhatian adalah pengakuan terbuka soal kegagalan Battalion: 1944 yang hanya mampu bertahan di angka 50-200 pemain bersamaan setelah dirilis.
Harga dan Konten: Investasi Jangka Panjang yang Berisiko
Wardogs dibanderol $40 (sekitar Rp 620 ribu) selama periode Early Access. Harga ini akan naik seiring progres pengembangan dan mencapai $60 (sekitar Rp 930 ribu) saat rilis penuh. Bulkhead menegaskan bahwa jika harga tersebut terasa terlalu mahal, pemain disarankan menunggu. "If the price sounds too high for an early-access game, please don't buy it yet," kata Bulkhead.
Soal konten, studio ini tidak menutup-nutupi bahwa versi awal Wardogs akan terasa minim. Namun keputusan ini diambil untuk memastikan fondasi gameplay yang solid sebelum menambahkan fitur lain.
Gameplay Milsim yang Tidak Ramah untuk Pemain Kasual
Wardogs mengusung gaya permainan milsim yang jauh dari kesan arcade. Kematian di medan tempur berarti pemain harus berjalan jauh kembali ke garis depan dan membeli ulang perlengkapan yang hilang. "If you're running in like you're playing Call of Duty or Battlefield, you will likely die to someone playing more cautiously," jelas Bulkhead. "If you're not willing to learn from those deaths, you're going to have a bad time."
Bagi komunitas FPS Indonesia yang terbiasa dengan tempo cepat Valorant atau PUBG, Wardogs menawarkan tantangan berbeda yang menuntut kesabaran dan pendekatan taktis.
Monetisasi: Tidak Ada Battle Pass Selama Early Access
Bulkhead berjanji tidak akan menambahkan sistem monetisasi seperti battle pass atau skin berbayar selama periode Early Access. Jika nantinya sistem tersebut hadir, pemain tetap bisa mendapatkan weapon camo dan mata uang in-game melalui permainan, bukan pembayaran langsung. "It might seem strange to be talking about monetization years down the line, but we want you to be able to buy in knowing what you're buying into long term," kata Bulkhead.
Battalion: 1944 Jadi Pelajaran Berharga
Track record Bulkhead menjadi salah satu poin yang paling jujur dalam daftar tersebut. Battalion: 1944, game shooter bergaya Call of Duty, gagal total dan nyaris menenggelamkan studio. Bulkhead mengaku selamat berkat pendapatan dari proyek work-for-hire dan telah mengembalikan uang kepada pemain serta backer Kickstarter. "It's these lessons and scars from Battalion that Wardogs has been built upon," tegas Bulkhead.
Meski mengakui kegagalan tersebut, mereka tetap membuka ruang bagi pemain yang ragu. "If you still don't trust our studio because of Battalion: 1944, don't rush to buy Wardogs."
Respons Pasar: Justru Naik ke Posisi Top Seller
Strategi kontroversial ini tampaknya tidak menyurutkan minat pasar. Hingga berita ini ditulis, Wardogs tercatat merangkak naik di tangga top-seller Steam. Pendekatan transparan Bulkhead justru menjadi pembeda di tengah tren marketing yang cenderung melebih-lebihkan kualitas game.
Wardogs akan memasuki Early Access pada 10 September 2025 di Steam. Keputusan membeli atau menunggu ada di tangan masing-masing pemain, namun setidaknya kali ini semua risiko sudah dipaparkan secara gamblang sebelum keputusan diambil.