Pencarian

Pelemahan Rupiah Ancam Harga dan Pasokan Obat, BPOM Siapkan Relaksasi Impor Bahan Baku

Senin, 15 Juni 2026 • 13:16:01 WIB
Pelemahan Rupiah Ancam Harga dan Pasokan Obat, BPOM Siapkan Relaksasi Impor Bahan Baku
BPOM siapkan relaksasi impor bahan baku obat untuk mengantisipasi pelemahan rupiah.

BANTEN — Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Aher memperingatkan pemerintah agar mewaspadai dampak pelemahan rupiah terhadap sektor farmasi. Ia menyoroti potensi kenaikan harga dan gangguan pasokan obat karena sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor.

"Obat merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, pemerintah harus memastikan tekanan ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar tidak berujung pada kenaikan harga yang memberatkan masyarakat atau bahkan menimbulkan kelangkaan obat," ujar Netty dalam keterangannya, Senin, 15 Juni.

Tekanan Impor dan Langkah Jangka Pendek BPOM

Peringatan ini menyusul pengakuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bahwa industri farmasi mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat biaya produksi membengkak seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Netty mengapresiasi langkah BPOM yang memberikan kemudahan dan pendampingan kepada industri farmasi untuk mencari alternatif sumber bahan baku dari negara lain. Namun, ia menilai strategi itu masih bersifat jangka pendek.

"Persoalan yang kita hadapi saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap bahan baku impor masih menjadi titik lemah sistem farmasi nasional," katanya.

Dorongan Percepatan Kemandirian Farmasi Nasional

Politisi PKS itu menekankan momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat kemandirian industri farmasi dalam negeri. Pemerintah, menurutnya, perlu memperkuat ekosistem industri bahan baku obat nasional, mulai dari riset, investasi, insentif industri, hingga kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku usaha.

"Ketahanan kesehatan nasional tidak hanya ditentukan oleh jumlah rumah sakit atau tenaga kesehatan, tetapi juga oleh kemampuan negara menjamin ketersediaan obat yang aman, bermutu, dan terjangkau bagi rakyat," jelas Netty.

Ia juga meminta agar kebijakan relaksasi dan percepatan perizinan bagi industri tetap mengedepankan aspek keamanan, mutu, dan khasiat produk. "Jangan sampai upaya menjaga pasokan justru mengurangi standar kualitas. Keselamatan pasien harus tetap menjadi prioritas utama," kata Netty.

Pemantauan Harga dan Ancaman bagi Kelompok Rentan

Netty mendesak pemerintah melakukan pemantauan berkala terhadap harga dan ketersediaan obat-obatan esensial di fasilitas kesehatan dan apotek. Ia mengingatkan bahwa kelompok rentan dan pasien yang bergantung pada obat rutin setiap hari akan paling merasakan dampak gangguan pasokan.

"Kita harus belajar dari berbagai krisis sebelumnya. Ketika pasokan terganggu, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat," sebut Netty.

Ia berharap situasi ini menjadi momentum memperkuat ketahanan farmasi nasional. "Jangan sampai setiap kali rupiah melemah atau terjadi konflik global, masyarakat kembali dihantui kenaikan harga dan ancaman kelangkaan obat. Kemandirian farmasi harus menjadi agenda strategis nasional," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mempersilakan perusahaan farmasi menaikkan harga obat 10-20 persen imbas pelemahan rupiah. BPOM menyiapkan relaksasi kebijakan dan diversifikasi suplai bahan baku untuk menstabilkan harga.

Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks