TANGERANG — Abraham Garuda Laksono mengajak kader PDI Perjuangan di Kabupaten Tangerang untuk tidak memaknai Hari Kebangkitan Nasional sekadar seremoni tahunan. Dalam saresehan yang digelar Rabu (20/5/2026) itu, ia menyebut situasi geopolitik dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS telah berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
"Harga kebutuhan naik, daya beli melemah, dan tekanan hidup semakin berat," ujar Abraham di hadapan pengurus PAC dari Curug, Kelapa Dua, Panongan, Cikupa, Legok, Pagedangan, dan Cisauk.
Menagih Relevansi Trisakti di Tengah Krisis Pangan
Abraham menekankan bahwa ajaran Trisakti Bung Karno — berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan — tetap relevan sebagai bingkai perjuangan. Menurutnya, kader partai tidak boleh kehilangan orientasi kerakyatan ketika tekanan ekonomi global semakin nyata.
"Politik jangan berubah menjadi perebutan kekuasaan. Politik adalah alat perjuangan untuk menghadirkan keadilan sosial," tegasnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan sebagai pekerjaan rumah yang belum tuntas sejak era Budi Utomo 118 tahun silam.
Saresehan Jadi Ruang Kaderisasi Alternatif
Soekoto, pengurus PAC Curug, menilai forum semacam ini menjadi langkah penting membangun kesadaran politik kader secara lebih mendalam. Ia menyebut Abraham sebagai salah satu pionir yang konsisten mendorong diskusi ideologis di akar rumput.
"Forum ini bukan sekadar konsolidasi organisasi, tetapi ruang untuk memperkuat semangat ideologis dan soliditas kader," katanya.
Budi, Wakil Ketua PAC Kelapa Dua, menambahkan tradisi diskusi politik harus terus dihidupkan agar kader tidak hanya hadir saat momentum elektoral. "Mereka harus benar-benar memahami sejarah perjuangan bangsa, ideologi partai, dan tanggung jawab moral kepada rakyat," ujarnya.
Marhaenisme sebagai Kompas Kader Muda
Abraham menegaskan pentingnya kader partai memahami akar ideologi PDI Perjuangan yang berpijak pada Pancasila dan Marhaenisme. Ia menyebut kader harus menjadi "anak ideologis Bung Karno" yang memiliki kesadaran intelektual dan keberpihakan sosial.
Suasana saresehan berlangsung dialogis. Para peserta aktif berdiskusi tentang tantangan kaderisasi, kondisi sosial masyarakat, dan pentingnya menjaga soliditas partai di tingkat bawah.
Melalui momentum Harkitnas 2026, Abraham berharap kader mampu menjaga semangat persatuan, nasionalisme, dan gotong royong. "Kebangkitan nasional hari ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi melahirkan kesadaran baru untuk memperjuangkan masa depan Indonesia yang lebih berkeadilan," pungkasnya.