BANTEN — Nama Luis Castro mungkin tidak langsung dikenal oleh para penggemar sepak bola Spanyol. Bahkan, presiden Levante, Pablo Sánchez, mengakui hal itu. "Saya pernah mendengar tentang Luis Castro yang lain, bukan yang ini," ujar Sánchez usai pertandingan melawan Mallorca, "dan ternyata dia adalah pelatih yang ideal untuk klub kami." Castro yang dimaksud adalah pelatih yang pernah menangani Shakhtar Donetsk dan Gremio, bukan pria yang kini duduk di bangku cadangan Levante.
Perjalanan Panjang Seorang Pelatih Tanpa Nama Besar
Luis Castro yang menangani Levante memulai karier kepelatihannya dari level akar rumput, melatih anak-anak usia lima tahun. Ia tidak memiliki pengalaman bermain di level atas, namun prestasinya sebagai pelatih tidak bisa diremehkan. Ia pernah memenangkan Liga Champions Youth UEFA bersama tim U-19 Benfica dan menyelamatkan Dunkerque dari degradasi di Prancis. Pengalaman di klub dengan sumber daya terbatas inilah yang membuatnya cocok untuk Levante.
Misi Mustahil yang Mulai Terwujud
Ketika Levante memecat Julian Calero pada November lalu, tim berada di posisi ke-19 dengan hanya sembilan poin dari 14 pertandingan. Dengan batas gaji terendah di La Liga, hanya 17,4 juta euro, banyak yang meragukan kemampuan mereka bertahan. Dalam dua pertandingan berikutnya di bawah pelatih interim, mereka hanya menambah satu poin dan terpuruk di dasar klasemen. Masuknya Castro pada Desember menjadi titik balik. Tiga hari setelah resmi menjabat, Levante mengalahkan Sevilla 3-0.
Kebangkitan Dramatis: Tiga Kemenangan Beruntun
Pertandingan melawan Osasuna menjadi momen krusial. Tertinggal 0-2, Levante bangkit dan menang 3-2. Pola yang sama terulang saat melawan Celta Vigo: tertinggal dua kali, namun berhasil menang 3-2 lagi. Kemenangan atas Mallorca akhir pekan lalu menjadi yang ketiga beruntun dan untuk pertama kalinya musim ini Levante keluar dari zona degradasi. Kapten tim langsung memimpin sorak sorai di stadion, diikuti oleh penyerang Roger Brugué yang melontarkan yel-yel "Ya, kami bisa!"
Angka Kecil yang Menjanjikan
Matematika kini berpihak pada Levante. Untuk terdegradasi, mereka harus kalah dari Betis di pekan terakhir, dan serangkaian hasil lain harus terjadi: Girona mengalahkan Elche, Mallorca gagal menang atas Oviedo, dan Osasuna meraih poin di kandang Getafe. Skenario itu menciptakan tiga tim dengan poin sama, dan Levante akan tersingkir karena selisih gol yang lebih buruk. Namun, dengan peluang degradasi hanya enam persen, Levante kini memegang kendali atas nasib mereka sendiri.