Pencarian

Tottenham Selamat dari Degradasi, tapi Kenyataan Pahit Musim Ini Tak Bisa Ditutupi

Senin, 25 Mei 2026 • 04:55:05 WIB
Tottenham Selamat dari Degradasi, tapi Kenyataan Pahit Musim Ini Tak Bisa Ditutupi
Tottenham merayakan kemenangan krusial yang memastikan kelangsungan mereka di Liga Premier musim ini.

BANTEN — Hanya tiga kemenangan kandang diraih Tottenham sepanjang musim ini. Salah satunya terjadi di laga paling krusial, saat gol Joao Palhinha memastikan kemenangan atas Everton dan mengirim West Ham United ke Championship. Stadion megah Tottenham Hotspur Stadium bergema lagu "Glory, Glory", namun di tengah sorak sorai, sebuah spanduk besar dikibarkan suporter bertuliskan: "Promised Success. Delivering Failure. ENIC out."

Teriakan "Kami Bertahan" yang Memalukan

Para pemain Spurs larut dalam selebrasi, tapi seharusnya rasa malu segera menyusul. Nyanyian "We Are Staying Up" dari tribun adalah nyanyian milik tim papan bawah, bukan klub yang baru dua musim lalu tampil di Liga Champions. Kemenangan ini hanya menutupi retakan yang sudah lama terlihat sejak musim lalu.

Pelatih Roberto de Zerbi, yang dihadirkan sebagai juru selamat darurat, mengakui perannya lebih sebagai psikolog ketimbang pelatih. "Sekitar pukul 19.00 atau 20.00 malam ini, kami akan mulai bekerja untuk musim depan," ujar De Zerbi. "Kami harus membangun tim yang top, top, top. Tidak perlu banyak perubahan, tapi kami butuh pemain level pertama."

Keputusan Buruk Beruntun di Balik Layar

Krisis Tottenham bukan hanya di lapangan. Manajemen klub, termasuk CEO Vinai Venkatesham dan direktur olahraga Johan Lange, berada di bawah sorotan. Keputusan paling fatal adalah memercayai Igor Tudor sebagai suksesor Thomas Frank. Tudor hanya bertahan 44 hari setelah lima kekalahan dalam tujuh pertandingan.

Sebelumnya, Frank dipecat setelah delapan bulan menangani tim, menyusul musim lalu yang hanya tertolong gelar Liga Europa. Pelatih Ange Postecoglou juga sudah dipecat setelah trofi itu. Kesalahan demi kesalahan beruntun inilah yang membuat klub dengan stadion megah, dukungan fanatik, dan pendapatan sekitar £74 juta dari Liga Champions, nyaris terdegradasi.

De Zerbi: Dari Pelukan Hangat ke Pertengkaran

Di tengah tekanan, De Zerbi justru tampil penuh gairah. Ia terlibat adu mulut panas dengan bek Everton, Seamus Coleman, setelah gol penentu. Pelatih asal Italia itu bahkan di-tackle layaknya pemain rugby oleh kiper cadangan Spurs, Guglielmo Vicario, saat berlari merayakan gol bersama suporter.

Cedera panjang yang menimpa kreator utama seperti James Maddison dan Dejan Kulusevski disebut sebagai faktor penghambat, tapi tak bisa jadi alasan atas performa yang dinilai sebagai "gerombolan tanpa motivasi" sepanjang musim. Kapten Cristian Romero pun sempat berpikir untuk absen di laga penentu ini sebelum akhirnya tampil.

Ironi di Hari Arsenal Juara

Satu ironi pahit: Tottenham selamat dari degradasi di hari yang sama saat rival sekota, Arsenal, mengangkat trofi Premier League pertama mereka dalam 22 tahun setelah menang di kandang Crystal Palace. Euforia sesaat suporter Spurs diprediksi akan segera berubah menjadi kemarahan saat investigasi internal dimulai dari atas ke bawah.

Bagikan
Sumber: bbc.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks