TANGSEL — Hujan ringan yang mengguyur beberapa titik di Banten dalam beberapa hari terakhir bukan pertanda musim kemarau berakhir. Seluruh wilayah provinsi ini masih berada dalam periode musim kemarau hingga Dasarian I September 2026.
Plt. Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati menyatakan puncak musim kemarau 2026 di Banten secara umum berlangsung pada Juli hingga September. Sejumlah wilayah bahkan masih berada di periode puncak kemarau sepanjang September.
Enam Wilayah Berstatus Kekeringan Meteorologis Level Awas
Berdasarkan Informasi Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Provinsi Banten periode Dasarian II September 2026, ada enam kabupaten/kota yang masuk status kekeringan meteorologis Level Awas. Wilayah itu meliputi Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak.
Untuk periode September 2026, wilayah yang masih berada pada puncak musim kemarau mencakup ZOM 159 Kabupaten Lebak bagian selatan, ZOM 160 Kabupaten Lebak bagian tengah, ZOM 167 Kabupaten Serang bagian tenggara, Kabupaten Tangerang bagian selatan, dan Kabupaten Lebak bagian timur laut.
Ana menambahkan, ZOM 168 yang meliputi Kota Tangerang bagian selatan, Kota Tangsel, dan Kabupaten Tangerang bagian tenggara juga masih berada dalam periode yang sama.
Mengapa Gerimis Bukan Tanda Musim Hujan Dimulai
Hujan ringan atau gerimis yang terjadi sesekali dapat dipicu faktor cuaca lokal di tengah periode kemarau. Pertumbuhan awan terjadi akibat pemanasan permukaan pada siang hari ketika atmosfer masih relatif lembap.
Kondisi topografi, perlambatan atau pertemuan angin, serta pasokan uap air dari perairan sekitar Banten turut memicu hujan lokal tersebut.
"Terjadinya gerimis atau hujan ringan juga bersifat lokal atau tidak merata. Dengan demikian, hujan lokal di tengah kondisi puncak musim kemarau bukan berarti musim hujan telah dimulai," kata Ana.
El Niño Perkuat Penurunan Curah Hujan
Kondisi kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat. Fenomena tersebut berpotensi memperbesar penurunan curah hujan dan memperpanjang durasi musim kemarau.
Kombinasi puncak kemarau dan pengaruh El Niño meningkatkan defisit curah hujan serta risiko kekeringan meteorologis. Dampaknya antara lain berkurangnya ketersediaan air, penurunan debit sungai, hingga gangguan terhadap sektor pertanian.
Lahan yang bergantung pada curah hujan berisiko mengalami gagal panen. Prediksi curah hujan bulanan menunjukkan kondisi lebih basah baru terlihat pada November 2026, dengan curah hujan kategori menengah sekitar 150 hingga 300 milimeter per bulan.
Imbauan Hemat Air hingga Antisipasi Kebakaran Lahan
Ana mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan menjaga sumber-sumber air bersih yang tersedia. Penggunaan dan distribusi air untuk kebutuhan pertanian juga perlu dioptimalkan dengan meningkatkan efisiensi sistem irigasi.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka. Kewaspadaan terhadap potensi kebakaran perlu ditingkatkan, khususnya di wilayah dengan kondisi lahan kering.
Pemerintah daerah masih diminta mengantisipasi keterbatasan air hingga memasuki masa transisi menuju musim hujan.