Pencarian

363 Lulusan FISIP UMT Diyudisium di Cipondoh, Rektor Warsito Ingatkan Tantangan AI

Minggu, 20 September 2026 • 14:46:01 WIB
363 Lulusan FISIP UMT Diyudisium di Cipondoh, Rektor Warsito Ingatkan Tantangan AI

TANGERANG — Universitas Muhammadiyah Tangerang melepas 363 sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dalam acara yudisium 2026 di Hotel Narita, Cipondoh, Kota Tangerang, Minggu (20/9/2026). Rektor UMT Dr. Warsito, M.Si menyampaikan pesan utama agar lulusan tidak menjadikan ijazah sebagai titik akhir proses belajar.

Komposisi lulusan didominasi Program Studi Ilmu Komunikasi dengan 292 mahasiswa, sedangkan Program Studi Ilmu Pemerintahan menyumbang 71 mahasiswa. Yudisium kali ini menjadi momentum pertama bagi FISIP UMT melepas sarjana di bawah tekanan perubahan lanskap kerja yang dipicu teknologi.

Yudisium Bukan Akhir Perjalanan

Warsito menegaskan bahwa gelar akademik bukan garis finis, melainkan pintu masuk untuk mengabdi ke masyarakat. Ia meminta lulusan segera menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah.

"Yudisium bukan akhir sebuah perjalanan. Hari ini kalian sudah berhak menyandang gelar akademik sarjana, tetapi bukan akhir dari perjalanan. Justru ini adalah awal untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat," ujar Warsito.

Pesan itu ia sampaikan di hadapan jajaran struktural FISIP, dosen, dan keluarga lulusan yang hadir di Hotel Narita. Menurutnya, kemampuan akademik saja tidak cukup tanpa kemauan terus memperbarui diri.

Mengapa AI Jadi Ancaman bagi Lulusan yang Berhenti Belajar

Warsito menyoroti laju perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang berlangsung cepat. Perubahan itu dinilainya menjadi salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi lulusan begitu masuk dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat.

Ia meminta para sarjana tidak berpuas diri setelah memegang ijazah. Belajar bisa dilakukan di mana pun, tidak terbatas di bangku kuliah.

"Kalau kalian tidak bisa adaptif terhadap perkembangan ini, akan tertinggal. Karena itu, terus belajar dan siap melakukan perubahan," katanya.

"Kalau hanya diam dan puas dengan ijazah, maka selesai sudah. Belajar tidak mesti di bangku kuliah. Di mana pun harus dilakukan, karena saat ini yang dibutuhkan adalah orang-orang yang kompeten," tutur Warsito.

Kompetensi Harus Sejalan dengan Akhlak

Di tengah tuntutan keterampilan teknis, Warsito mengingatkan pentingnya akhlak dan karakter. Ia meminta lulusan UMT menjaga nilai-nilai Al-Islam di mana pun berkarya.

Kecerdasan intelektual, menurut dia, harus berjalan seimbang dengan kecerdasan hati dan perilaku. Pesan itu ia sampaikan sebagai bagian dari identitas lulusan Muhammadiyah.

"Jangan hanya mengandalkan otak, tetapi juga hati," ujar Warsito.

Diharapkan Jadi Inovator, Bukan Benalu di Masyarakat

Warsito berharap alumni FISIP UMT hadir sebagai pembawa perubahan positif di lingkungan masing-masing. Ia menyebut keberhasilan lulusan tidak hanya ditentukan kemampuan akademik, tetapi juga dukungan orang-orang terdekat.

Karena itu, ia meminta lulusan tidak melupakan doa orang tua. Bagi yang sudah berpasangan, doa pasangan juga dinilainya penting.

"Kami berharap lulusan UMT jangan menjadi benalu, tetapi menjadi inovator di tengah masyarakat. Itu ciri insan Muhammadiyah, di mana pun berada selalu menerangi," katanya.

"Setelah selesai hari ini, jangan lupa meminta doa orang tua. Yang sudah punya pasangan, minta juga doa pasangan," ujar Warsito.

Ia juga meminta lulusan menghargai kontribusi jajaran struktural FISIP dan para dosen yang mendampingi selama proses pendidikan. Warsito menutup sambutannya dengan harapan agar seluruh lulusan sukses setelah meninggalkan UMT.

Follow lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mediabantencyber.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks