BANTEN — Tekanan terhadap industri perbankan BUMN kian nyata. Dony Oskaria, yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, secara spesifik meminta bank-bank milik negara untuk tidak hanya mengejar ekspansi kredit, tetapi juga memperkuat struktur permodalan dan efisiensi operasional. Permintaan ini menjadi sinyal bahwa induk holding BUMN mulai concern terhadap potensi risiko yang membayangi sektor keuangan.
Risiko Likuiditas dan Efisiensi Jadi Sorotan
Bank BUMN seperti BRI dan Mandiri saat ini menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, mereka harus mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif dan UMKM. Namun di sisi lain, biaya dana atau cost of fund terus meningkat seiring suku bunga acuan yang masih tinggi. Dony menekankan bahwa fundamental yang sehat bukan hanya soal laba, melainkan juga rasio kecukupan modal (CAR) dan likuiditas yang solid.
“Kami ingin bank BUMN tidak hanya besar, tapi juga kuat dan tahan banting. Perkuat fundamental agar semakin sehat,” ujar Dony dalam keterangan resmi yang dikutip pekan ini.
Dampak ke Nasabah dan Pasar Modal
Penguatan fundamental ini berdampak langsung pada nasabah penyimpan dana dan investor. Dengan likuiditas yang terjaga, risiko gagal bayar atau pengetatan penarikan dana bisa diminimalkan. Bagi investor di pasar modal, saham perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi lebih atraktif jika emiten menunjukkan manajemen risiko yang prudent.
Langkah ini juga menjadi persiapan menghadapi potensi perlambatan ekonomi global yang bisa menekan permintaan kredit. Bank BUMN dituntut untuk lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman tanpa mengorbankan target pertumbuhan yang sudah ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).
Arah Kebijakan Danantara ke Depan
Danantara Indonesia sebagai induk holding BUMN terus mendorong transformasi di sektor keuangan. Selain perbankan, holding ini juga mengawasi kinerja perusahaan asuransi dan multifinance milik negara. Dony mengisyaratkan bahwa ke depan, efisiensi operasional melalui digitalisasi dan konsolidasi anak usaha akan menjadi prioritas.
“Kami tidak ingin bank BUMN hanya menjadi penonton di tengah perubahan industri. Mereka harus jadi pionir dalam inovasi layanan keuangan,” tegasnya.
Langkah ini menjadi ujian bagi direksi bank BUMN untuk membuktikan bahwa mereka mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan ketahanan fundamental di tengah ketidakpastian ekonomi.