BANTEN — Emiten tambang pelat merah ini membukukan lonjakan EBITDA hingga 182% secara tahunan menjadi USD249,9 juta. Angka tersebut jauh melampaui capaian kuartal I 2025 yang sebesar USD88,6 juta. Laba bersih konsolidasian pun tercatat USD120,2 juta, berbanding terbalik dengan USD2,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur MDKA, Albert Saputro, dalam keterangan resmi Senin (29/6) menyebut awal tahun 2026 menjadi momentum kuat bagi perseroan. "Didukung oleh kenaikan harga jual emas, peningkatan volume penjualan limonit, penguatan margin nikel, serta kontribusi penjualan perdana dari Tambang Emas Pani," ujarnya.
Emas dan Nikel Jadi Penopang Utama EBITDA
Dari sisi segmen, emas menjadi kontributor terbesar terhadap EBITDA MDKA pada kuartal I 2026 dengan nilai USD89 juta. Disusul nikel dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI) sebesar USD67 juta, limonit USD48 juta, High-Grade Nickel Matte (HGNM) USD25 juta, dan tembaga USD19 juta.
Kombinasi portofolio logam yang terdiversifikasi ini dinilai mampu menangkap peluang penguatan margin di tengah fluktuasi harga komoditas global. "Kinerja ini menunjukkan ketahanan portofolio Perseroan yang terdiversifikasi dan mencerminkan fokus kami yang berkelanjutan pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan platform pertumbuhan utama di sektor emas, nikel, dan tembaga," pungkas Albert.
Tambang Emas Pani Mulai Berkontribusi
Salah satu faktor yang menonjol dalam laporan kali ini adalah kontribusi perdana dari Tambang Emas Pani. Proyek yang sebelumnya dalam tahap pengembangan kini mulai menghasilkan pendapatan, menambah diversifikasi sumber pemasukan MDKA di luar tambang yang sudah beroperasi sebelumnya.
Dengan kinerja positif ini, MDKA optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang tahun 2026. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas global dan biaya operasional tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi oleh manajemen ke depan.