BANTEN — Berdasarkan data pasar pada pukul 09.38 WIB, rupiah melanjutkan tren penurunan di hadapan greenback. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS yang masih menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bagi Anda yang hendak melakukan transaksi valuta asing hari ini, berikut kurs jual dan beli dolar AS di tiga bank utama yang bisa dijadikan acuan:
Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, dan BNI per 2 Juni 2026
Bank Central Asia (BCA) menawarkan beberapa kategori kurs. Untuk transaksi melalui e-Banking, BCA menerapkan e-Rate dengan kurs beli di Rp 17.878 dan kurs jual di Rp 17.898 per dolar AS. Sementara untuk transaksi tunai di counter (TT Counter & Bank Notes), BCA mematok harga beli Rp 17.690 dan harga jual Rp 17.940 per dolar AS.
BCA juga menyediakan special rate untuk transaksi nominal besar di atas 25.000 dolar AS. Kategori ini menawarkan kurs yang lebih kompetitif, dengan kurs beli Rp 17.865 dan kurs jual Rp 17.895 per dolar AS. Nasabah dapat menghubungi cabang BCA terdekat untuk mendapatkan kurs yang berlaku saat transaksi.
Bank Mandiri (BMRI) menawarkan dua kategori kurs. Untuk transaksi melalui TT Counter, Mandiri mematok kurs beli Rp 17.640 dan kurs jual Rp 17.940 per dolar AS. Sedangkan untuk transaksi bank notes, kurs beli berada di level Rp 17.625 dan kurs jual di Rp 17.925 per dolar AS.
Perlu dicatat, kurs yang tercantum merupakan kurs indikasi. Untuk transaksi dengan nominal di atas 25.000 dolar AS, nasabah disarankan menghubungi cabang terlebih dahulu untuk mendapatkan kepastian kurs.
Apa Arti Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat?
Pelemahan rupiah ke level Rp 17.864 per dolar AS berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama terhadap barang-barang impor. Harga barang elektronik, gadget, hingga bahan baku industri yang masih bergantung pada impor berpotensi mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
Bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, beban pembayaran cicilan pun meningkat. Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar jika dikonversi ke rupiah.
Untuk transaksi valas harian, selisih antara kurs beli dan jual (spread) di masing-masing bank perlu diperhatikan. Semakin kecil spread, semakin efisien biaya transaksi yang harus ditanggung nasabah.
Kapan Rupiah Bisa Berbalik Menguat?
Pergerakan rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) serta data ekonomi AS yang menjadi pemicu pergerakan dolar global. Pelaku pasar masih menanti sinyal dari bank sentral AS (The Fed) terkait arah suku bunga ke depan.
Investasi mengandung risiko.