TANGERANG SELATAN — Bukan sekadar panggung dongeng, festival ini menghadirkan pengalaman interaktif bagi keluarga. Anak-anak diajak bermain congklak, engklek, dan berbagai permainan tradisional lainnya di tengah riuh rendah Tangerang Selatan.
Kegiatan yang digelar oleh komunitas Kampung Dongeng ini menyasar anak-anak dan orang tua. Tujuannya, mempererat hubungan antaranggota keluarga di tengah gempuran gawai.
Mengapa Permainan Tradisional Diangkat?
Komunitas Kampung Dongeng memilih permainan tradisional sebagai jembatan komunikasi antar generasi. Orang tua diajak mengenang masa kecil, sementara anak-anak belajar bermain tanpa layar.
Sesi bercerita atau mendongeng menjadi daya tarik utama. Para pendongeng membawakan kisah-kisah lokal yang sarat pesan moral, bukan sekadar dongeng populer dari luar negeri.
Hari Keluarga Sedunia Jadi Momentum
Peringatan Hari Keluarga Sedunia yang ditetapkan PBB setiap 15 Mei menjadi latar belakang festival ini. PBB mendorong kesadaran terhadap isu-isu keluarga, termasuk proses sosial, ekonomi, dan kependudukan yang memengaruhi kehidupan rumah tangga.
Di Indonesia, momen ini kerap dimanfaatkan komunitas untuk mengingatkan pentingnya waktu berkualitas bersama keluarga. Festival Kampung Dongeng di Tangerang Selatan menjadi salah satu wujudnya.
Antusiasme Warga dan Harapan ke Depan
Pantauan di lokasi, anak-anak tampak antusias mengikuti setiap sesi. Orang tua pun tak kalah semangat mendampingi buah hati mereka bermain.
Komunitas Kampung Dongeng berharap kegiatan serupa bisa digelar rutin, tidak hanya saat peringatan Hari Keluarga Sedunia. Mereka menilai, tradisi bermain dan mendongeng bisa menjadi perekat hubungan orang tua dan anak yang mulai terkikis oleh kebiasaan digital.