TANGERANG — Ratusan hektare lahan di TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, masih menyisakan kepulan asap pekat. Dampaknya, puluhan warga dari Desa Tanjakan Mekar terpaksa menjadikan kantor desa sebagai tempat mengungsi selama sepekan terakhir.
Kepala Desa Tanjakan Mekar, Uti, mengatakan mayoritas pengungsi adalah kelompok rentan: ibu rumah tangga, anak-anak, dan lansia. "Asap TPA itu mengandung racun, ya memang untuk sehari-hari itu udah terdampak betul," ujarnya di Tangerang, Senin.
Mengapa Warga Memilih Bertahan di Pengungsian?
Salah seorang pengungsi, Qipi, mengaku enggan mengambil risiko meski bantuan logistik sudah mencukupi. "Asap masih ada. Jadi, saya pilih menetap sementara di sini (pengungsian), karena tidak mau ambil risiko," katanya.
Qipi menambahkan, selama tujuh hari terakhir, kebutuhan makanan dan kasur disuplai penuh oleh pemerintah daerah melalui dapur umum. "Logistik kami disiapkan sama pemerintah, jadi masih aman selama kami di sini," ucapnya.
Kondisi Kesehatan Pengungsi dan Jaminan Logistik
Kepala Desa Uti mengungkapkan, sebelumnya mayoritas pengungsi sempat terpapar infeksi saluran pernapasan (ISPA). Namun, kondisi mereka kini berangsur pulih. "Dokter dan Puskesmas Rajeg memang selalu mengecek apabila ada warga yang mengungsi langsung diperiksa kesehatannya," katanya.
Pasokan bahan pokok disebut dalam kondisi aman. Bantuan terus mengalir dari berbagai pihak, mulai dari Dinas Sosial, Kementerian Sosial, PDAM, hingga Pemerintah Kabupaten dan Provinsi. "Alhamdulillah, logistik, semua makanan tercukupi," ujar Uti.
Kebakaran Melahap 18 Hektare, Pemadaman dari Udara Masih Berlangsung
Berdasarkan laporan yang dihimpun ANTARA pada Senin, luas lahan yang terbakar di TPA Jatiwaringin mencapai 18 hektare dari total area 33 hektare. Memasuki hari ketujuh, tim gabungan berhasil mengendalikan api dan hanya menyisakan sekitar 3,6 persen area yang masih dalam proses pemadaman.
Operasi pemadaman dilakukan melalui dua jalur. Personel Manggala Agni dan pemadam kebakaran berjibaku di darat, sementara tiga unit helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikerahkan untuk memadamkan api dari udara. Upaya ini melibatkan tim gabungan dari Pemda, BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kementerian Kehutanan.