LEBAK — Komunitas adat Badui di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, punya sistem ketahanan pangan yang teruji puluhan tahun. Mereka menyimpan hasil panen padi huma di lumbung tradisional bernama leuit. Cadangan ini menjadi penopang utama saat musim kemarau panjang atau bencana alam melanda.
8.000 Leuit, 24 Ribu Ton Gabah Siap Pakai
Jumlah lumbung yang tercatat mencapai 8.000 leuit, tersebar di 4.000 kepala keluarga dengan total penduduk 13.309 jiwa. Jika setiap lumbung rata-rata menampung tiga ton gabah, total stok pangan yang tersimpan mencapai 24 ribu ton.
"Kami meyakini stok pangan yang ada di lumbung itu bisa terjaga untuk pertahanan pangan keluarga," kata Jaro Oom, Jumat (pekan lalu).
Tradisi ini membuat masyarakat Badui tidak pernah mengalami kerawanan pangan. Mereka hanya panen setahun sekali, tapi hasilnya cukup untuk bertahan hingga musim tanam berikutnya.
Gabah Disimpan Bertahun-tahun, Konsumsi Sehari-hari Beli Beras
Santa, warga Badui berusia 55 tahun, mengaku lumbung miliknya menyimpan tujuh ton gabah hasil panen huma selama enam tahun. Namun, ia belum pernah menggunakan stok itu untuk kebutuhan sehari-hari.
"Kami sampai hari ini kebutuhan konsumsi berasnya dengan cara membeli, juga ada bantuan pangan dari Bulog. Gabah hasil panen yang disimpan di lumbung belum pernah digunakan," ujar Santa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa leuit bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan simbol kedaulatan pangan yang dijaga lintas generasi. Warga Badui lebih memilih membeli beras daripada menyentuh cadangan darurat di lumbung.
Kepala Dinas Pertanian Apresiasi Tradisi Tak Jual Padi
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengapresiasi kebiasaan masyarakat Badui yang tidak menjual hasil panen padi. Menurutnya, hal ini menjadi kunci utama ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim.
"Kami mengapresiasi masyarakat Badui hingga kini ketahanan pangan terjaga dan setiap panen padi tidak dijual," kata Rahmat.
Ia menambahkan, cadangan pangan di lumbung relatif aman dan belum pernah terjadi kerawanan pangan di wilayah adat tersebut. Sistem ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
Tradisi bertani padi huma ala Badui membuktikan bahwa kedaulatan pangan tidak selalu bergantung pada teknologi modern. Dengan disiplin menyimpan hasil panen di leuit, mereka mampu bertahan di tengah musim kemarau tanpa kelaparan.