Pencarian

Startup Asuransi Corgi Dituduh Curi Kode Open Source, Klaim Hanya "Vibe Coding"

Sabtu, 27 Juni 2026 • 12:35:01 WIB
Startup Asuransi Corgi Dituduh Curi Kode Open Source, Klaim Hanya
CEO Corgi membantah tuduhan pencurian kode dengan metode "vibe coding" dalam pengembangan produk Dataroom.

BANTEN — Kontroversi di dunia rintisan teknologi kembali memanas. Papermark, pengembang perangkat lunak data room sumber terbuka, menuduh Corgi—startup asuransi yang didukung Y Combinator—telah menyalin perangkat lunaknya untuk produk anyar bernama Dataroom. Tuduhan ini dilontarkan Marc Seitz, salah satu pendiri Papermark, di platform X pekan lalu.

Seitz mengunggah tangkapan layar yang menunjukkan antarmuka Dataroom milik Corgi memiliki teks penjelasan fitur yang identik kata per kata dengan Papermark. Ia bahkan menyebut tindakan Corgi sebagai pelanggaran hak cipta dan lisensi, serta "penipuan." Unggahan itu langsung viral dan memicu perdebatan sengit di kalangan pegiat teknologi.

Bantahan Corgi: Bukan Mencuri, Tapi "Vibe Coding"

Nico Laqua, CEO sekaligus pendiri Corgi, langsung merespons tuduhan tersebut. Setelah melakukan investigasi internal, ia menyatakan bahwa tidak ada kode program Papermark yang digunakan dalam produk Dataroom. "Kode kami berbeda," tulis Laqua di X.

Namun, Laqua mengakui bahwa kemiripan visual dan bahasa antarmuka terjadi karena timnya menerapkan metode "vibe coding". Metode ini memungkinkan pengembang meniru tampilan dan nuansa produk lain tanpa menyalin kode sumber secara langsung. "Seharusnya kami lebih mengandalkan pilihan bahasa dan visual kami sendiri alih-alih mengambil inspirasi dari produk yang sudah ada," aku Laqua.

Juru bicara Corgi membenarkan bahwa elemen yang dipermasalahkan hanyalah "elemen visual di dua halaman pengaturan periferal" dan sudah segera diperbarui. Pihaknya juga menekankan bahwa tidak ada kode Papermark yang disalin.

Kontroversi Berlapis: Ancaman Hukum dan Budaya Kerja Keras

Buntut dari kasus ini, Corgi mengambil langkah hukum. Perusahaan mengirimkan surat penghentian dan penghentian (cease-and-desist) kepada Seitz, menuntut agar unggahannya dihapus. Langkah serupa juga dilayangkan kepada pendiri Hello World Cafe yang bercanda soal kontroversi ini di media sosial.

Ini bukan kali pertama Corgi menggunakan pendekatan legal yang agresif. Pada Mei lalu, kompetitor Matcha menuduh Corgi melakukan tindakan perundungan. Startup yang baru berusia dua tahun ini juga telah menggugat sejumlah mantan karyawannya. Reputasi Corgi sebagai perusahaan yang gemar berlitigasi pun kian menguat.

Di sisi lain, Laqua juga sempat menjadi sorotan karena pernyataannya di podcast VC Harry Stebbings. Ia mengharapkan karyawan bekerja tujuh hari seminggu. "Apa pun yang bisa kamu selesaikan dalam lima hari, saya jamin, kamu akan menyelesaikan lebih banyak dalam enam dan tujuh hari," ujarnya. Pandangan ini bertentangan dengan riset produktivitas yang justru menunjukkan jam kerja berlebihan menurunkan efektivitas.

Pertanyaan Baru di Era AI: Apa Arti "Mencuri" di Zaman Vibe Coding?

Kasus Corgi membuka diskusi baru yang lebih rumit. Jika "vibe coding" memungkinkan seseorang meniru tampilan, nuansa, dan fungsi produk lain tanpa menyalin kode baris per baris, di mana batas pelanggaran etika?

Dan Barrett, pendiri OpenProse yang juga alumni Y Combinator, melontarkan pertanyaan kritis di X. "Di dunia di mana bot bisa dengan mudah menyalin struktur sesuatu 1:1 meskipun kode karakternya berbeda... apa yang membuat satu hal tidak bisa diterima dan yang lainnya bisa? Apakah hukum kekayaan intelektual yang ada hanya peninggalan dunia lama?" tulisnya.

Secara hukum, perbedaan kode sumber menjadi pembeda utama. Namun secara moral, kasus ini berada di zona abu-abu yang diprediksi akan semakin sering terjadi seiring kemajuan AI. Bagi pengguna awam, pelajaran paling sederhana: jika sebuah produk terlihat dan terasa persis seperti produk lain, mungkin ada cerita di balik layar yang perlu dicermati.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks