JAKARTA — Di tengah tekanan harga pangan perkotaan, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) memilih memperkuat kolaborasi jangka panjang lewat program ketahanan pangan berbasis komunitas. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) periode 2026–2029 dilakukan Kamis (25/6) di AFT Halim Perdanakusuma, melibatkan Kelurahan Pondok Kopi dan Kelompok Rumah Gizi Rawajaya sebagai mitra pelaksana.
Program ini bukan sekadar proyek sosial temporer. Berlokasi di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rawajaya, inisiatif ini mengubah lahan terbatas di tengah pemukiman padat menjadi sumber pangan produktif. Saat ini, 20 warga binaan membudidayakan pakcoy, caisim, cabai rawit, melon, serta ikan lele dan nila.
Mengapa Urban Farming Jadi Pilihan di Tengah Kota?
Keterbatasan lahan di Jakarta Timur menjadi tantangan klasik ketahanan pangan. Program Rumah Gizi Rawajaya menjawabnya dengan pendekatan urban farming—memanfaatkan RPTRA yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau pasif. Kini, lahan tersebut menghasilkan sayuran dan ikan yang bisa dikonsumsi sendiri atau dijual untuk menopang ekonomi warga.
Lurah Pondok Kopi, Sandy Adamsyah, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah awal yang positif. "Kami mengapresiasi komitmen Pertamina yang telah menjalin kerja sama dengan Kelurahan Pondok Kopi melalui Program Rumah Gizi Rawajaya. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Antara.
Dampak Ekonomi: Dari Konsumsi ke Kemandirian
Program ini tidak berhenti pada produksi pangan. Dengan melibatkan warga dalam budidaya dan panen, Pertamina mendorong kemandirian ekonomi skala rumah tangga. Hasil panen sayuran dan ikan bisa menjadi sumber pendapatan tambahan, sekaligus mengurangi pengeluaran harian untuk bahan pangan.
Aviation Fuel Terminal Manager Halim Perdanakusuma, Irine Yuliana, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan manfaat berkelanjutan. "Melalui Program Rumah Gizi Rawajaya, kami ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi warga," kata Irine.
Sinergi Tiga Pilar: Pemerintah, BUMN, dan Masyarakat
Keberhasilan program semacam ini bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB, Dila Amanda Kenniza, menekankan pentingnya sinergi tersebut. "Dengan sinergi antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat, kami optimistis program ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kelurahan Pondok Kopi," ujar Dila.
Program ini juga selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 2 (Tanpa Kelaparan) dan poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Dengan skema PKS multi-tahun, Pertamina memberikan kepastian keberlanjutan bagi warga binaan untuk terus mengembangkan usaha tani perkotaan mereka.
FAQ: Apa Itu Program Rumah Gizi Rawajaya?
Apa saja jenis tanaman yang dibudidayakan dalam program ini?
Peserta program membudidayakan sayuran seperti pakcoy, caisim, cabai rawit, dan melon, serta ikan air tawar berupa lele dan nila.
Berapa lama durasi kerja sama program ini?
Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang baru ditandatangani berlaku untuk periode 2026–2029, memastikan keberlanjutan program hingga empat tahun ke depan.