Pencarian

Rupiah Terjerembap ke Rp17.987 per Dolar AS, Data Inflasi AS dan Sikap Hawkish The Fed Jadi Biang Kerok

Jumat, 26 Juni 2026 • 09:28:01 WIB
Rupiah Terjerembap ke Rp17.987 per Dolar AS, Data Inflasi AS dan Sikap Hawkish The Fed Jadi Biang Kerok
Rupiah melemah ke Rp17.987 per dolar AS di tengah data inflasi AS yang memanas.

BANTEN — Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan yang bervariasi di kawasan Asia. Ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang yang menonjol dengan apresiasi 0,31 persen terhadap dolar AS, diikuti peso Filipina yang naik tipis 0,07 persen. Namun, mayoritas mata uang Asia lainnya justru tertekan, dengan won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 0,38 persen.

Dolar AS Perkasa di Hadapan Mata Uang Negara Maju

Di kelompok mata uang utama negara maju, dolar Kanada menjadi satu-satunya yang berhasil menguat, mencatat kenaikan 0,03 persen terhadap greenback. Sebaliknya, dolar Australia terdepresiasi paling dalam, yakni 0,29 persen, disusul euro yang turun 0,10 persen, dan franc Swiss yang terkoreksi 0,09 persen.

Analis: Sentimen Global Masih Menekan Rupiah

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Menurutnya, katalis negatif utama datang dari data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang menunjukkan inflasi inti kembali memanas.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Proyeksi Pergerakan Hari Ini

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan rentang support dan resistance yang cukup lebar. Ia memproyeksikan mata uang Garuda akan diperdagangkan di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

  • Fakta Singkat:
  • Pelemahan rupiah pagi ini mencapai 44 poin atau 0,25 persen.
  • Inflasi inti AS (PCE) tercatat di level tertinggi sejak Oktober 2023.
  • Sikap hawkish The Fed meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan.

Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan dinamika pasar keuangan global. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati data ekonomi AS selanjutnya serta pernyataan pejabat bank sentral yang dapat memicu volatilitas tambahan.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks