Pencarian

IHSG Terkoreksi 1,79% ke 6.066,46, Saham Grup Barito dan Sinarmas Paling Menekan

Senin, 22 Juni 2026 • 12:28:01 WIB
IHSG Terkoreksi 1,79% ke 6.066,46, Saham Grup Barito dan Sinarmas Paling Menekan
IHSG terkoreksi 1,79% ke posisi 6.066,46 pada perdagangan pagi ini.

BANTEN — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 10.45 WIB, IHSG terkoreksi 1,79% ke posisi 6.066,46. Total nilai transaksi tercatat Rp6,16 triliun dengan volume perdagangan mencapai 9,76 miliar saham. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 184 saham yang berhasil menghijau, sementara 273 saham lainnya stagnan.

Tiga Sentimen Global Menekan Indeks

Tekanan jual yang terjadi pagi ini dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama, perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih belum mereda. Kedua, data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini turut menjadi perhatian investor asing. Ketiga, keputusan MSCI terkait pengkajian ulang status Indonesia di indeks pasar negara berkembang (emerging market) dinanti pelaku pasar.

Analis Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebutkan, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi isu yang paling disorot. "Kesepakatan antara AS dan Iran untuk mencabut blokade pelayaran menjadi perhatian utama, karena berdampak langsung pada rantai pasok energi global," tulis riset tersebut.

Saham Konglomerat dan Bank Besar Jadi Pemberat Utama

Penekan utama IHSG pagi ini berasal dari saham-saham konglomerat besar. Grup Barito dan Sinarmas tercatat menjadi kontributor penurunan indeks terbesar. Saham perbankan berkapitalisasi besar juga ikut tertekan, memperparah koreksi indeks.

Berikut fakta singkat perdagangan sesi I pagi ini:

  • IHSG ditutup di 6.066,46, turun 1,79% dari posisi sebelumnya.
  • Nilai transaksi mencapai Rp6,16 triliun dalam volume 9,76 miliar saham.
  • Rasio saham merah vs hijau: 502 saham turun berbanding 184 saham naik.

Keputusan MSCI Jadi Katalis Utama Pekan Ini

Keputusan MSCI Inc. terkait status Indonesia di indeks emerging market dijadwalkan pada pekan ini. Hasil evaluasi ini akan menentukan aliran dana asing jangka pendek ke pasar saham domestik. Jika Indonesia dipertahankan, tekanan jual asing diperkirakan berkurang. Sebaliknya, jika terjadi penurunan status, arus modal asing berpotensi keluar lebih deras.

Pasar saat ini berada dalam mode wait and see. Investor disarankan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan data tenaga kerja AS yang akan dirilis akhir pekan nanti sebagai indikasi arah kebijakan suku bunga global. Investasi mengandung risiko.

Bagikan
Sumber: idxchannel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks