BANTEN — Dalam pemungutan suara yang berlangsung di Markas Besar PBB, New York, Selasa (11/6), Jerman harus mengakui keunggulan Austria dan Portugal yang berhasil mengamankan dua kursi yang diperebutkan untuk kelompok Eropa Barat dan negara-negara lain (WEOG). Kegagalan ini mengejutkan banyak kalangan, mengingat Jerman selama ini dikenal sebagai salah satu kontributor terbesar anggaran PBB dan aktor aktif dalam misi perdamaian.
Persaingan Ketat dan Suara yang Terbelah
Proses pemilihan berlangsung alot. Austria dan Portugal masing-masing mengantongi 128 dan 124 suara, melampaui ambang batas dua pertiga mayoritas yang dibutuhkan. Jerman, yang sebelumnya dianggap sebagai kandidat terkuat, hanya mampu meraih 97 suara.
Para analis diplomatik menilai kegagalan ini tidak terlepas dari persepsi sejumlah negara berkembang terhadap kebijakan luar negeri Berlin yang dinilai terlalu fokus pada isu keamanan Eropa dan kurang peka terhadap agenda negara Selatan. Kanselir Merz, yang baru beberapa bulan memimpin, menjadikan kursi DK PBB sebagai prioritas utama untuk mengembalikan pengaruh Jerman di panggung global.
Pukulan bagi Ambisi Global Kanselir Merz
Kekalahan ini merupakan kemunduran diplomatik paling signifikan bagi Jerman sejak upaya mereka mereformasi Dewan Keamanan PBB mandek. Merz sebelumnya secara terbuka menyatakan bahwa kursi sementara adalah batu loncatan untuk mendorong agenda multilateralisme Berlin.
“Ini jelas bukan hasil yang kami harapkan. Kami akan mengevaluasi ulang pendekatan kami dalam diplomasi multilateral,” demikian pernyataan singkat Kementerian Luar Negeri Jerman yang dikutip dari keterangan pers di Berlin, Rabu (12/6). Tidak ada pernyataan resmi langsung dari Kanselir Merz hingga berita ini diturunkan.
Implikasi bagi Peran Jerman di Forum Global
Kegagalan ini dipastikan akan mempengaruhi posisi tawar Jerman dalam berbagai isu global, mulai dari perubahan iklim hingga tata kelola keamanan siber. Tanpa kursi di DK PBB, Jerman kehilangan akses langsung ke ruang pengambilan keputusan tertinggi di PBB untuk dua tahun ke depan.
Sebagai anggota tidak tetap, sebuah negara memiliki hak veto terbatas namun dapat mempengaruhi agenda dan resolusi. Portugal dan Austria, yang kini akan duduk bersama lima anggota tetap, diprediksi akan mengusung isu keamanan maritim dan dialog antarperadaban selama masa jabatan mereka.
Para pengamat menilai kekalahan ini bisa memicu perombakan di tubuh Kementerian Luar Negeri Jerman, terutama di jajaran direktorat jenderal multilateral. Merz kini harus menghadapi tekanan politik dalam negeri yang mempertanyakan efektivitas strategi diplomasinya di tengah rivalitas ketat dengan negara-negara Uni Eropa lainnya.