PANDEGLANG — Ratusan kilogram sampah yang mencemari kawasan wisata pesisir selatan Banten berhasil disingkirkan dalam waktu setengah hari. Sampah yang dikumpulkan di Pesisir Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, itu terdiri dari plastik, multilayer sachet, styrofoam, hingga jaring ikan bekas atau ghost nets.
Mengapa Sampah di Pantai Selatan Banten Terus Menumpuk?
Wilayah pesisir Kecamatan Sumur dikenal sebagai salah satu titik akumulasi sampah kiriman dari laut lepas. Arus Samudra Hindia kerap membawa sampah dari berbagai wilayah dan menggumpalkannya di garis pantai, terutama saat musim barat. Aksi bersih-bersih ini merupakan respons terhadap kondisi tersebut.
Para peserta yang tergabung dalam Nestle Coastal Warriors turun langsung memungut sampah yang berserakan di pasir dan bebatuan pantai. Mereka menyisir area seluas 350 meter garis pantai dan berhasil mengumpulkan 250 kilogram sampah dalam waktu beberapa jam.
Jaring Ikan Hantu dan Sampah Kemasan Mendominasi
Jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah plastik kemasan sekali pakai dan styrofoam. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah keberadaan ghost nets atau jaring ikan bekas yang sudah tidak terpakai. Jaring ini sering kali menjerat biota laut dan merusak ekosistem terumbu karang di perairan Pandeglang.
"Kami fokus pada pembersihan sampah yang sudah mengendap lama di pesisir," ujar salah satu koordinator kegiatan. Sampah organik seperti daun dan kayu juga ikut dibersihkan untuk mengembalikan estetika pantai.
Ekosistem Pesisir dan Pariwisata Jadi Taruhan
Desa Sumberjaya merupakan salah satu pintu masuk menuju kawasan wisata bahari di ujung selatan Banten, dekat dengan Taman Nasional Ujung Kulon. Kebersihan pantai menjadi faktor krusial untuk menjaga daya tarik wisatawan dan kelangsungan hidup satwa laut.
Pembersihan ini diharapkan menjadi agenda rutin, bukan sekadar aksi seremonial. Tanpa intervensi berkala, sampah kiriman dari laut akan terus menumpuk dan mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir Pandeglang.