SERANG — Dalam tulisan refleksi yang dikirim ke Faktabanten.co.id, Idan Wildan menyebut dirinya berdiri di persimpangan jalan: meninggalkan pendidikan formal yang telah ditempuh dengan berbagai pengalaman dan proses pembelajaran. Ia menyebut fase baru itu sebagai Universitas Kehidupan yang Sesungguhnya. Bagi Wildan, kelulusan bukan akhir perjalanan intelektual, melainkan awal ujian yang lebih nyata.
Selama menjadi mahasiswa, ia belajar melalui teori, diskusi, penelitian, dan aktivitas organisasi. Kini seluruh pengetahuan itu harus diuji di tengah kehidupan yang penuh dinamika, ketidakpastian, serta tantangan yang tidak selalu memiliki jawaban pasti.
Kampus sebagai Laboratorium Sosial, Bukan Sekadar Tempat Mengejar Nilai
Wildan menuturkan, sebagai mahasiswa Fakultas Teknik sekaligus aktivis, ia tidak hanya belajar di dalam ruang kelas. Di ruang akademik, ia belajar berpikir sistematis, menganalisis persoalan, dan memahami bahwa setiap masalah butuh pendekatan rasional serta terukur.
Melalui organisasi dan gerakan mahasiswa, ia mengaku belajar soal kepemimpinan, tanggung jawab, keberanian menyampaikan pendapat, dan menghargai perbedaan. Pengalaman itu, katanya, mengajarkan bahwa menjadi mahasiswa bukan semata-mata soal nilai akademik atau mengejar gelar sarjana.
"Bagi saya, kampus merupakan laboratorium sosial. Di dalamnya, gagasan diuji melalui diskusi, pemikiran dikembangkan melalui perbedaan pandangan, dan karakter dibentuk melalui berbagai pengalaman," tulis Wildan dalam refleksinya.
Ia menyadari kehidupan kampus punya batas. Ada hal yang bisa dipahami lewat buku dan perkuliahan, tetapi ada pelajaran yang hanya diperoleh ketika seseorang berhadapan langsung dengan realitas kehidupan.
Mengapa Ilmu Teknik Perlu Keluar dari Ruang Kelas
Setelah menyelesaikan pendidikan formal, Wildan mulai memahami bahwa dunia kehidupan memiliki kompleksitas berbeda dengan dunia akademik. Di kampus, persoalan dianalisis lewat teori dan pendekatan ilmiah. Di tengah masyarakat, persoalan sering melibatkan banyak kepentingan, keterbatasan sumber daya, kondisi sosial, dan konsekuensi yang tidak sederhana.
Sebagai lulusan Fakultas Teknik, ia ingin membawa cara berpikir sistematis yang telah dipelajari untuk menghadapi berbagai persoalan. Ilmu pengetahuan, menurut dia, semestinya tidak berhenti sebagai kumpulan konsep di dalam buku, tetapi menjadi instrumen untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat.
Di titik itu ia memaknai perpindahan dari lorong akademik menuju lorong realitas. Bukan meninggalkan ilmu pengetahuan, melainkan membawa ilmu tersebut keluar dari ruang kelas untuk diuji, diterapkan, dan dikembangkan melalui pengalaman nyata.
Ijazah Hanya Bukti Satu Tahapan, Kompetensi Harus Terus Diperbarui
Wildan merujuk konsep pembelajaran sepanjang hayat sebagai pegangan. Dalam perspektif itu, kelulusan bukan akhir proses pendidikan. Manusia harus terus belajar melalui pengalaman, interaksi sosial, perkembangan teknologi, dan perubahan zaman. Pengetahuan yang dimiliki hari ini perlu diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menegaskan ijazah merupakan bukti telah diselesaikannya suatu tahapan pendidikan, bukan jaminan seseorang menguasai seluruh persoalan kehidupan. Justru setelah lulus, tuntutan untuk mengembangkan kompetensi, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan beradaptasi semakin besar.
Universitas kehidupan, tulisnya, mengajarkan bahwa pengalaman dapat menjadi guru, kegagalan menjadi bahan evaluasi, dan keberhasilan harus disikapi dengan kerendahan hati. Tidak semua persoalan memiliki jawaban yang tersedia di dalam buku. Ada keputusan yang membutuhkan keberanian, keadaan yang menuntut kesabaran, dan tantangan yang hanya bisa dilewati lewat konsistensi serta kemauan terus belajar.
Dari Lorong Diskusi Menuju Lorong Aksi
Sebagai mahasiswa yang pernah aktif dalam gerakan mahasiswa, Wildan tumbuh dalam lingkup diskusi dan perdebatan gagasan. Pengalaman itu membentuk pandangannya bahwa berpikir kritis tanpa tindakan nyata hanya menghasilkan wacana. Ia ingin fase setelah kampus diisi dengan aksi yang berdampak langsung bagi masyarakat di sekitarnya.
Refleksi ini ia tutup dengan penegasan bahwa perjalanan intelektual tidak berhenti di gerbang wisuda. Bagi Wildan, gelar sarjana teknik yang diraihnya menjadi titik tolak, bukan garis akhir, untuk menguji ilmu di tengah kehidupan nyata.