BANTEN — Gempa tektonik yang mengguncang NTT bulan lalu meninggalkan duka mendalam. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 27 Agustus 2026 mencatat sekitar 176 ribu orang masih bertahan di posko pengungsian. Rumah warga rusak, fasilitas umum terganggu, dan longsor terjadi di sejumlah titik.
Melihat kondisi itu, Danareksa menggerakkan seluruh ekosistem bisnisnya. Bukan hanya perusahaan induk, tetapi juga tujuh anak usaha kawasan industri, penyewa pabrik, hingga karyawan. Hasilnya, dana Rp 423 juta terkumpul dalam waktu singkat.
Isi Bantuan: dari Beras hingga Popok Lansia
Manajemen memastikan donasi tidak sekadar diserahkan dalam bentuk uang. Melalui koordinasi SIER yang lokasinya paling dekat dengan titik bencana, bantuan dikonversi menjadi barang kebutuhan pokok yang langsung didistribusikan ke lapangan.
Rinciannya mencakup 9,5 ton beras, lebih dari 1.100 porsi makanan siap saji, 300 liter minyak goreng, serta 500 unit susu siap minum dan susu formula. Untuk kenyamanan istirahat pengungsi, disediakan lebih dari 200 unit kasur lipat, bantal, sarung, dan terpal.
Perhatian khusus juga diberikan pada kebutuhan keluarga. Lebih dari 440 unit perlengkapan kebersihan seperti popok bayi, popok lansia, sikat gigi, dan pasta gigi ikut dikirim. Barang-barang ini merupakan permintaan langsung dari pengelola posko pengungsian berdasarkan kebutuhan paling mendesak.
Penyaluran Dua Tahap yang Akuntabel
Proses distribusi dilakukan bertahap agar tepat sasaran. Tahap pertama berlangsung pada 21 Agustus 2026 melalui Posko Induk BRI Peduli Tanggap Bencana Gempa NTT, bekerja sama dengan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) dan BPBD setempat. Tahap kedua menyusul pada 25 Agustus 2026 melalui BPBD Provinsi Jawa Timur.
Direktur Keuangan, Administrasi, dan Manajemen Risiko SIER, Rizka Syafittri Siregar, menegaskan pihaknya memastikan seluruh proses berjalan transparan. "Amanah sebagai koordinator kami jalankan dengan memastikan bantuan disalurkan sesuai kebutuhan lapangan. Partisipasi anggota holding, tenant, karyawan, dan mitra memperlihatkan bahwa kepedulian akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar ketika dilakukan bersama," ujarnya.
Kolektifitas Ekosistem BUMN
Direktur Utama Danareksa, Ngurah Wirawan, menyampaikan apresiasi atas gerak cepat seluruh ekosistem. Menurutnya, sebagai holding kawasan industri yang berorientasi pada penciptaan nilai, perusahaan berkomitmen mengoptimalkan jaringan dan kapasitas bisnis untuk manfaat nyata bagi masyarakat.
"Kami berterima kasih karena ekosistem kawasan industri, tenant, karyawan, dan mitra bergerak kolektif untuk mendukung percepatan pemulihan masyarakat terdampak gempa di NTT," kata Ngurah dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).
Adapun anggota holding yang berkontribusi meliputi PT Kawasan Industri Medan, PT Kawasan Berikat Nusantara, PT Kawasan Industri Wijayakusuma, PT Kawasan Industri Makassar, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (Perseroda), PT Kawasan Industri Terpadu Batang, dan SIER. Aksi ini menjadi contoh bagaimana kekuatan korporasi bisa diarahkan untuk meringankan beban sosial di tengah musibah.