SERANG — MUI Banten menggeser fokus persiapan Musda VI dari sekadar kelancaran acara ke substansi hasil yang berdampak langsung bagi warga. Ketua Umum MUI Banten KH A Bazari Syam meminta seluruh pengurus memperbanyak kegiatan kemasyarakatan sebelum forum puncak yang dijadwalkan berlangsung di Grand El Hajj, Cipondoh, Kota Tangerang, pada 11-13 Desember 2026.
Instruksi ini disampaikan dalam rapat persiapan Musda VI di Kota Serang, Selasa (18/8/2026). Bazari menilai masyarakat akan menilai kualitas musyawarah daerah dari aksi nyata yang terlihat sebelum acara, bukan hanya dari seremonial saat pembukaan dan penutupan.
Momentum Membuktikan Peran MUI, Bukan Sekadar Ritual Tahunan
Bazari menyoroti masih adanya sejumlah program yang tertunda dan harus segera dieksekusi. Menurutnya, masa menuju Musda adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kontribusi konkret MUI, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun keagamaan.
“Musda ini diharapkan berjalan dengan baik, lancar, dan sukses. Saya berharap kegiatan Musda ini tidak hanya sekadar seremoni atau ritual organisasi, tetapi juga menjadi pengalaman baru bagi kita dan ada eksekusi nyata,” ujarnya dalam rapat yang digelar di Kota Serang tersebut.
Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Perluas Jangkauan Manfaat
Pengurus MUI Banten diminta aktif berkolaborasi dengan lembaga sosial dan berbagai pihak lain. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas dampak program yang dijalankan, sehingga tidak hanya menjangkau kalangan tertentu tetapi juga masyarakat luas yang membutuhkan.
“Jangan hanya sekadar ritual organisasi. Sebelum kegiatan Musda, saya mohon kegiatan-kegiatan yang bisa kita lakukan untuk masyarakat lebih banyak digelar. Masyarakat akan mengukur seberapa besar kualitas Musda ini dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan sebelumnya,” tegas Bazari.
Dua Rel Utama: Khadimul Ummah dan Shadiqul Hukumah
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Banten Prof. Syibli Syarjaya mengingatkan bahwa MUI memiliki posisi strategis sebagai representasi seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Banten. Karena itu, output Musda VI harus selaras dengan dua peran utama organisasi, yaitu melayani umat dan menjadi mitra pemerintah.
“Output atau outcome dari Musda tersebut harus bisa dirasakan oleh masyarakat. Kita tentu punya dua rel yang sangat kokoh, yaitu khadimul ummah dan shadiqul hukumah. Ketika berbicara tentang itu, kita harus menyampaikan apa yang bisa kita lakukan kepada masyarakat,” jelas Prof. Syibli.
SC Diminta Susun Program yang Terukur, Bukan “Mengawang-awang”
Prof. Syibli secara khusus meminta Steering Committee (SC) untuk merancang program kerja yang berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. Ia menekankan pentingnya program yang dapat dibuktikan pelaksanaannya dibandingkan sekadar wacana besar yang sulit dieksekusi di lapangan.
“Saya mohon Pak Ketua SC betul-betul merancang program tersebut, program yang oriented. Jangan program yang mengawang-awang dan tidak bisa dibuktikan. Buat program yang bisa dirasakan oleh masyarakat Banten pada umumnya, khususnya umat Islam,” tuturnya.
Menurut Prof. Syibli, terdapat tiga agenda utama yang harus tuntas dalam Musda VI. Pertama, pemilihan ketua umum periode baru. Kedua, penyusunan program kerja yang jelas dan terukur. Ketiga, evaluasi atas laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode lima tahun terakhir.
Dengan kerangka tersebut, Musda VI MUI Banten diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga peta jalan program yang menjawab persoalan aktual masyarakat Banten. Rangkaian kegiatan sosial yang digelar sebelum forum menjadi indikator awal keseriusan organisasi dalam menjalankan mandat tersebut.