TANGERANG — Kepala DLH Kota Tangerang Wawan Fauzi menjelaskan, limbah elektronik rumah tangga seperti televisi, komputer, telepon genggam, hingga lampu bekas mengandung racun yang berbahaya bagi lingkungan. Jika tercampur dengan sampah biasa dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), zat beracun dari komponen tersebut bisa merembes ke tanah dan sumber air.
Dropbox Berkapasitas 20 Kg untuk Sampah B3 Skala Rumah Tangga
Fasilitas penampungan khusus itu berupa dropbox yang dirancang menampung limbah B3 hingga 20 kilogram per unit. Wawan menyebut, langkah ini untuk memudahkan warga RW 08 Alam Jaya memilah dan membuang sampah elektronik secara aman.
"Melalui dropbox berkapasitas 20 kg ini, kami ingin mempermudah warga RW 08 Alam Jaya untuk memilah dan membuangnya secara aman agar tidak mencemari lingkungan," ujar Wawan di Tangerang, Selasa.
Tak Hanya Dropbox, Ada Layanan Jemput Limbah B3
Selain menyediakan dropbox, DLH Kota Tangerang juga mengoperasikan layanan jemput limbah B3. Layanan ini memastikan sampah elektronik yang terkumpul di komunitas bisa langsung diangkut petugas dan dikelola sesuai prosedur oleh pihak berizin.
Menurut Wawan, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Tangerang mencegah pencemaran sekaligus mendorong kesadaran warga. "Dengan pengelolaan yang tepat, limbah elektronik dapat ditangani oleh pihak berizin, sehingga risiko pencemaran lingkungan dapat diminimalkan dan Kota Tangerang tetap bersih, sehat, serta berkelanjutan," kata dia.
Bank Sampah Cahaya: Warga Tak Lagi Bingung Buang Baterai dan Kabel Bekas
Ketua Bank Sampah Cahaya RW 08 Magdalena mengapresiasi keberadaan dropbox tersebut. Menurutnya, sarana ini membuat proses pengumpulan limbah berbahaya di tingkat komunitas jadi lebih terstruktur.
"Kehadiran dropbox sampah elektronik ini sangat membantu kami. Dengan kapasitas hingga 20 kg, warga tidak perlu bingung lagi membuang limbah B3. Pengumpulan dan pengamanan sampah berbahaya dari rumah warga kini jadi jauh lebih terstruktur dan berkala," kata Magdalena.
DLH mengimbau seluruh warga Kota Tangerang untuk mulai memilah limbah elektronik secara terpisah dari sampah dapur. Kesadaran memilah dari rumah, kata Wawan, menjadi kunci mewujudkan kota yang lebih bersih dan sehat.