PANDEGLANG — Berawal dari keprihatinan melihat hutan mangrove yang rusak akibat diambil kayunya untuk bahan bakar, sekelompok warga di pesisir Patikang justru mengubahnya menjadi ladang ekonomi. Kelompok Baraya Patikang yang dipimpin Deden kini telah menjual lebih dari 38.000 bibit mangrove dalam empat tahun terakhir, dengan harga sekitar Rp5.000 per bibit.
Belajar dari Internet, Mengubah Nasib
Deden dan rekan-rekannya memulai pembibitan secara otodidak setelah melihat kondisi mangrove yang memprihatinkan. "Awalnya kami memulai dengan pembibitan mangrove karena melihat kondisinya yang memprihatinkan. Waktu itu saya bersama teman-teman memulai sendiri, belum mengajak masyarakat," ujar Deden.
Mereka belajar teknik pembibitan dari video di internet. Hasil bibit yang siap tanam kemudian diunggah ke media sosial. Ternyata muncul peminat yang membeli bibit tersebut. "Setelah melakukan pembibitan, itu kami iseng membagikannya di media sosial. Ternyata ada yang berminat, lalu membeli bibit mangrove," katanya.
38.000 Bibit Terjual, Penghasilan Nelayan Bertambah
Dalam empat tahun, kelompok ini telah menjual puluhan ribu bibit. Anggota kelompok yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil melaut kini memiliki tambahan penghasilan. "Alhamdulillah dampaknya sudah mulai dirasakan. Anggota kelompok yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil melaut, kini memiliki tambahan penghasilan. Bahkan, mereka sudah memiliki tabungan yang bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari," jelas Deden.
Setiap bibit yang ditanam juga membantu memulihkan kawasan pesisir, mengembalikan fungsi mangrove sebagai pelindung abrasi dan penyerap karbon. Kombinasi antara ekonomi dan lingkungan menjadi kunci keberlanjutan.
Dukungan Perusahaan dan Pengembangan Ekowisata
Perjalanan kelompok ini mendapat dukungan dari PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group). Perusahaan membeli bibit mangrove untuk kegiatan rehabilitasi serta membantu pengembangan fasilitas di kawasan ekowisata Patikang. "Chandra Asri Group banyak mendukung kami. Selain membeli bibit mangrove, perusahaan juga membantu pengembangan fasilitas yang ada di kawasan ini, termasuk ekowisatanya," kata Deden.
Harapan: Mangrove Hijau, Ekonomi Tumbuh Berkelanjutan
Bagi Deden, keberhasilan terbesar bukanlah jumlah bibit yang terjual, melainkan melihat kawasan yang dulu gersang kini dipenuhi mangrove. Ia berharap semakin banyak warga yang terlibat sehingga manfaat ekonomi dan lingkungan dapat dirasakan terus-menerus. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha di Patikang menjadi contoh bahwa alam dan kesejahteraan bisa berjalan beriringan.