Pencarian

Final Piala Dunia: Lamine Yamal di Persimpangan Legenda dan Penyesalan

Minggu, 19 Juli 2026 • 23:09:31 WIB
Final Piala Dunia: Lamine Yamal di Persimpangan Legenda dan Penyesalan
Lamine Yamal menjalani latihan menjelang final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, New York, Minggu (19/7).

BANTEN — New York, AS — Lamine Yamal bukan pemain paling gemilang di Piala Dunia 2026. Statistiknya jujur: satu gol, nol assist. Meski begitu, Spanyol melaju mulus ke final. Kemenangan atas Argentina pada Minggu (19/7) di MetLife Stadium akan menulis ulang cerita itu.

"Tidak ada yang peduli apakah Lamine cetak banyak gol atau tidak," ujar seorang suporter Spanyol. "Kalau dia menang Piala Dunia, dia akan jadi legenda selamanya. Jika kalah, dia akan menyesal karena tidak bermain maksimal."

Rekor Kemenangan Sempurna yang Belum Pernah Terganggu

Yamal belum pernah kalah dalam 27 laga kompetitif bersama Spanyol. Dari 12 starter di turnamen besar, semuanya berakhir kemenangan — catatan 100% terbaik di antara pemain Eropa mana pun.

Jika mencetak gol di final, ia akan jadi remaja ketiga yang bikin gol di partai puncak Piala Dunia setelah Pele (1950) dan Kylian Mbappe (2018). Menang, ia masuk jajaran eksklusif: Pele, Mbappe, dan Giuseppe Bergomi (1982) — remaja yang start dan juara. Rekan setimnya Pau Cubarsi (19 tahun) bisa menyusul.

Dribel Terbanyak, Tapi Assist Nihil

Penampilan Yamal sebenarnya tidak buruk. Ia memimpin statistik dribel turnamen dengan 49 percobaan — tujuh lebih banyak dari pemain lain. 22 dribel berhasil, hanya kalah dari Lionel Messi (25).

Masalahnya, kontribusi itu tak berujung gol atau assist. "Saya tidak masuk lapangan berpikir harus cetak gol," ujar Yamal. "Yang penting menang. Pergerakan saya menarik banyak lawan, itu sudah membantu tim."

Gelandang Rodri mengakui Yamal kadang terlalu cemas. "Dia perlu tenang. Ada kecemasan untuk membuktikan diri. Tapi dia pemain penting, dengan dan tanpa bola," kata Rodri sebelum semifinal lawan Prancis.

Warisan Messi dan Beban Nomor 10

Perbandingan dengan Messi tak terhindarkan. Yamal sudah memakai nomor 10 Barcelona yang legendaris, menjuarai Euro, dan kini di ambang Piala Dunia. Padahal Messi baru juara di usia 35 tahun.

Pelatih Luis de la Fuente berusaha meredam ekspektasi. "Kesalahan terbesar membandingkannya dengan Messi atau Maradona. Dia masih dalam proses, punya ketenangan luar biasa."

Yamal sendiri hanya tersenyum saat ditanya soal peluang juara. "Ya," jawabnya singkat. Minggu nanti, senyum itu bisa jadi awal legenda — atau luka pertama dalam karier yang masih panjang.

Bagikan
Sumber: bbc.co.uk

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks