Bupati Tangerang Minta Guru Ngaji dan Pimpinan Ponpes Jadi Garda Depan Cegah KDRT hingga TPPO

Penulis: Tedy Rustandi  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 18:39:01 WIB
Bupati Tangerang mengajak guru ngaji dan pimpinan ponpes berperan aktif cegah KDRT dan TPPO.

TANGERANG — Angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kabupaten Tangerang yang terus meningkat setiap tahun menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Bupati Moch Maesyal Rasyid pun menarik garis tegas bahwa persoalan ini bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan tragedi kemanusiaan yang mencederai nilai agama.

“Kalau ada kejadian seperti ini, bukan urusan pidana atau hukum saja. Ini tragedi kemanusiaan,” ujarnya di hadapan puluhan peserta sosialisasi, Selasa (9/6/2026).

Guru Ngaji Jadi Garda Terdepan Edukasi Keluarga

Maesyal menilai para kiai, ustaz, dan pengelola ponpes memiliki akses langsung ke komunitas akar rumput. Mereka bisa menyisipkan pesan tentang keharmonisan rumah tangga, tanggung jawab suami-istri, dan pola asuh anak dalam setiap ceramah.

“Saya minta para guru ngaji bisa terus memberikan edukasi soal keharmonisan rumah tangga yang disisipkan dalam setiap ceramah. Supaya kita bersama bisa mengurangi kasus yang mengalami kenaikan setiap tahunnya,” imbuh Maesyal.

Lahan Kosong Ponpes Disulap Jadi Lahan Produktif

Tidak hanya bicara pencegahan kekerasan, Bupati juga mendorong Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren. Lahan kosong yang dimiliki ponpes bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

“Nanti kalau ada tanah di pondok pesantren yang nggak dipakai, kita bantu upayakan untuk ditanamin hortikultura, palawija, atau bikin bioflok kolam ikan. Supaya ada kesibukan bagi santri dan guru ngaji, dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan,” jelas Maesyal.

Target: Meningkatkan Kewaspadaan Masyarakat

Kepala DP3A Kabupaten Tangerang Asep Suherman mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat peran aktif ustaz, ustazah, dan ponpes sebagai mitra strategis pemerintah. Mereka diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang aman, ramah perempuan dan anak, serta bebas dari perdagangan orang.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan peran aktif mereka melalui penguatan pengetahuan kewaspadaan, edukasi masyarakat, serta sinergi dengan pemerintah daerah,” ujar Asep.

Kegiatan tersebut melibatkan Kementerian Agama Kabupaten Tangerang, Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Banten, advokat, Forum Silaturahmi Pondok Pesantren, tokoh agama, dan ketua MUI kecamatan. Pemerintah Kabupaten Tangerang berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya kekerasan terhadap perempuan, anak, dan TPPO semakin meningkat sehingga bisa dicegah sejak dini.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: barayanews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top