BANTEN — NVIDIA membawa pendekatan arsitektur ponsel ke dunia PC lewat superchip terbaru mereka, RTX Spark. Chip ini mengusung memori terpadu (unified memory) hingga 128 GB yang bisa diakses bersama oleh CPU dan GPU, mirip dengan cara kerja chip smartphone modern. Bedanya, kapasitasnya 8 kali lipat lebih besar dari RAM laptop kebanyakan.
Fitur paling utama dari RTX Spark adalah NVLink-C2C, antarmuka yang menghubungkan CPU dan GPU dengan bandwidth dua arah mencapai 600 GB/s. NVIDIA mengklaim kecepatan ini 5 kali lebih cepat dari PCIe Gen5, sehingga model AI besar tidak perlu dipecah antara RAM sistem dan GPU.
Namun, pilihan memori LPDDR5X membuat bandwidth efektifnya hanya 273 GB/s. Angka ini jauh di bawah GPU desktop dengan GDDR6/7 yang bisa mencapai 768 GB/s. Artinya, performa gaming RTX Spark diperkirakan tidak akan setara kartu grafis PC kelas atas.
Jantung pemrosesan RTX Spark adalah CPU N1X (GB10) berbasis Armv9, arsitektur yang sama dengan chip ponsel premium. NVIDIA menggandeng MediaTek dalam desain CPU ini. Hasilnya, chip memiliki 10 core Arm Cortex-X925 (berjalan di 4,0 GHz) dan 10 core A725 (2,85 GHz).
RTX Spark akan menjadi otak dari gelombang baru laptop Windows on Arm premium. Produsen yang sudah mengumumkan dukungan meliputi Microsoft Surface, ASUS, Dell, HP, Lenovo, dan MSI. Bentuk perangkat bervariasi, dari laptop kreator 14 inci tipis hingga workstation 16 inci dan PC desktop mini.
Chip ini sebenarnya sudah lebih dulu hadir di DGX Spark seharga USD 4.700 (sekitar Rp 77,5 juta), yang menjalankan sistem operasi Linux khusus NVIDIA. Versi untuk Windows diperkirakan baru rilis dalam beberapa bulan ke depan.
Dengan pendekatan memori terpadu dan CPU Arm, RTX Spark menjanjikan efisiensi daya lebih baik serta kemampuan menjalankan model AI besar tanpa kartu grafis terpisah. Namun, harga yang mahal dan performa gaming yang mungkin tidak setara GPU desktop menjadi pertimbangan utama. Chip ini paling cocok untuk profesional yang membutuhkan komputasi AI lokal dalam perangkat portabel.