TANGERANG — Konsep kota mandiri di pinggiran Jakarta kembali diuji. CitraRaya Tangerang, salah satu township terbesar di Banten, baru saja menambah sejumlah fasilitas untuk menekan ketergantungan penghuninya terhadap pusat kota. Departemen Head Marketing Communication CitraRaya Tangerang Raymond Christantyo menyebut pengembangan ini merupakan respons terhadap perubahan kebiasaan masyarakat urban pascapandemi.
"Mengusung konsep kota mandiri, CitraRaya Tangerang menghadirkan integrasi hunian, fasilitas komersial, pendidikan, kesehatan, hingga gaya hidup dalam satu kawasan," ujar Raymond dalam keterangan resmi, Sabtu (23/5).
Fasilitas anyar yang masuk ke dalam ekosistem CitraRaya cukup beragam. Di sektor ritel dan gaya hidup, Mal Ciputra Tangerang kedatangan tenant Boost Juice, gerai minuman sehat yang menyasar kalangan urban yang sadar kebugaran. Sementara itu, pilihan kuliner lokal diperkuat dengan hadirnya Kampung Kecil, restoran khas Sunda yang mengusung konsep saung dan nuansa alam.
Di sektor kesehatan, Ciputra Hospital CitraRaya Tangerang melengkapi layanannya dengan RMI (Rehabilitasi Medik Integratif). Raymond menjelaskan layanan ini dirancang untuk mempercepat pemulihan pasien secara komprehensif, sekaligus memperkuat fungsi rumah sakit sebagai pusat layanan di dalam kawasan.
Langkah CitraRaya mencerminkan pergeseran strategi pengembang properti di Indonesia. Jika satu dekade lalu kompetisi berpusat pada harga per meter dan skema kredit, kini faktor kelengkapan fasilitas menjadi pembeda utama. Township development seperti CitraRaya, BSD City, atau Kota Harapan Indah berlomba menciptakan lingkungan yang memungkinkan penghuni bekerja, sekolah, berobat, dan rekreasi tanpa harus keluar gerbang perumahan.
Bagi warga Tangerang dan sekitarnya, keberadaan fasilitas kesehatan seperti RMI di dalam kawasan bukan sekadar tambahan layanan. Ini menjawab persoalan klasik macet dan waktu tempuh yang kerap menjadi kendala saat darurat medis. Kehadiran restoran dan gerai ritel juga membantu menggerakkan ekonomi lokal, karena tenant yang masuk umumnya menyerap tenaga kerja dari sekitar.
Meski terdengar ideal, membangun kota mandiri bukan tanpa tantangan. Konektivitas dengan pusat kota tetap menjadi faktor krusial. CitraRaya sendiri berada di kawasan Tangerang yang terhubung dengan tol Jakarta-Merak dan akses menuju Bandara Soekarno-Hatta. Namun, transportasi publik massal yang memadai masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.
Raymond menegaskan bahwa pengembangan CitraRaya akan terus berlanjut mengikuti kebutuhan masyarakat modern. Artinya, ke depan, warga bisa berharap lebih banyak lagi fasilitas publik yang masuk ke dalam kawasan—dari sekolah bertaraf internasional hingga ruang terbuka hijau yang terawat.
Luas lahan mencapai 2.760 hektar menjadikan CitraRaya salah satu yang terbesar di Indonesia. Dengan skala tersebut, pengembang memiliki keleluasaan untuk merancang zonasi—memisahkan kawasan industri ringan, komersial, dan hunian tanpa saling mengganggu. Kehadiran Ciputra Group sebagai pengelola juga memberikan jaminan keberlanjutan proyek, mengingat reputasi grup ini dalam mengelola kawasan terpadu di berbagai kota.
Apakah CitraRaya Tangerang masih menjual unit rumah baru?
Ya. Kawasan ini masih aktif memasarkan unit terbaru, termasuk klaster Neo Pine Tree dari Ecopolis CitraRaya Tangerang yang diperkenalkan belum lama ini.
Fasilitas apa yang paling baru di CitraRaya?
Dua yang terbaru adalah kehadiran Boost Juice di Mal Ciputra Tangerang dan layanan Rehabilitasi Medik Integratif (RMI) di Ciputra Hospital CitraRaya Tangerang.