Pencarian

Warga Kampung Pekijing Serang Ramai-Ramai Bikin Panjang Mulud, Warga yang Tak Ikut Gotong Royong Kena Denda Rp 20.000

Sabtu, 08 Agustus 2026 • 23:27:01 WIB
Warga Kampung Pekijing Serang Ramai-Ramai Bikin Panjang Mulud, Warga yang Tak Ikut Gotong Royong Kena Denda Rp 20.000
Warga Kampung Pekijing, Kelurahan Kalanganyar, Kota Serang, Banten, menyelesaikan kerajinan Panjang Mulud secara gotong royong untuk perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

SERANG — Semangat kebersamaan warga Kampung Pekijing, Kelurahan Kalanganyar, Kota Serang, Banten, tengah diuji dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Mereka bahu-membahu menghabiskan waktu sekitar satu bulan untuk merampungkan kerajinan khas bernama Panjang Mulud.

Satibi, salah seorang warga setempat, menuturkan bahwa pengerjaan kerajinan ini dilakukan setiap malam secara gotong royong. Aturan yang mengikat kebersamaan itu pun cukup unik dan tegas.

"Bikin nya gotong royong setiap malam. Kalau ada warga yang tidak ikut bergotong royong, akan dikenakan denda Rp20.000," kata Satibi di Serang, Sabtu.

Dana Kas Masjid Jadi Andalan Produksi

Tingkat kemegahan Panjang Mulud yang dibuat ternyata bergantung pada jumlah dana yang terkumpul dari masyarakat. Pada perayaan tahun ini, warga Kampung Pekijing menghabiskan bahan baku hingga lima kubik untuk menyelesaikan kerajinan tersebut.

Kerajinan hiasan yang didominasi bentuk satwa seperti macan dan kuda ini bukan sekadar tradisi seremonial belaka. Hasil penjualan Panjang Mulud nantinya akan disumbangkan sepenuhnya untuk mengisi kas masjid setempat, sekaligus menjadi modal produksi pada perayaan Maulid Nabi di tahun berikutnya.

Harga Panjang Mulud dan Asal Pembelinya

Setelah proses pembuatan selesai, kerajinan ini diprioritaskan untuk kebutuhan perayaan warga setempat. Sisa yang tidak terpakai kemudian dijual kepada masyarakat luas dengan harga bervariasi.

Satibi menyebutkan, Panjang Mulud dibanderol mulai dari Rp200.000 untuk ukuran paling kecil, Rp350.000 untuk ukuran sedang, hingga Rp500.000 untuk ukuran paling besar. Meski jarang ada pesanan dari jauh hari, kerajinan ini biasanya laris manis dibeli warga luar daerah yang datang langsung melihat.

"Meski tidak banyak yang memesan dari jauh hari, biasanya kerajinan ini habis dibeli secara berurutan oleh warga dari luar daerah yang datang melihat langsung, seperti dari wilayah Ciomas," tambahnya.

Tradisi yang terus dirawat sejak tujuh tahun terakhir ini membuktikan bahwa nilai budaya bisa berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Follow lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: banten.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks