LEBAK — Dinas Pertanian Kabupaten Lebak memastikan gerakan tanam serempak tidak hanya sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi percepatan peningkatan produksi beras. Kegiatan dipusatkan di dua lokasi strategis, yakni lahan Brigade Pangan Bunga Padi Milenial di Kampung Neglasari, Desa Cipeucang, Kecamatan Wanasalam seluas 18 hektare, serta areal persawahan Desa Rahong, Kecamatan Malimping seluas 20 hektare.
Metode PM-AAS: Populasi Tanaman Naik Hingga 1 Juta Rumpun per Hektare
Pelaksanaan tanam serempak tahun ini menerapkan metode Pertanian Modern Advanced Agriculture Sistem (PM-AAS) yang digagas Kementerian Pertanian. Metode ini mengandalkan pola tanam rapat presisi dengan jarak tanam benih langsung (tabela) sekitar 3 sentimeter.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar menjelaskan, pendekatan ini berbeda jauh dengan cara konvensional. Jika metode lama hanya mampu menanam 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektare, PM-AAS memungkinkan populasi tanaman membengkak hingga 800 ribu sampai 1 juta rumpun per hektare.
"Rata-rata hasil panen gabah kering pungut (GKP) secara konvensional 5-6 ton per hektare, tetapi metode PM-AAS bisa menghasilkan gabah 10 sampai 12,4 ton per hektare," ujarnya.
Efisiensi Pupuk dan Air Jadi Daya Tarik Petani Milenial
Mumin, tenaga penyuluh pertanian yang mendampingi petani di lokasi tanam, mengakui metode ini membutuhkan benih lebih banyak, sekitar 70 kilogram per hektare. Namun, sistem pertanian presisi yang diterapkan justru membuat penggunaan pupuk dan air menjadi lebih efisien dibandingkan pola tanam tradisional.
Gerakan ini sekaligus menjadi momentum mendorong indeks pertanaman (IP) di Kabupaten Lebak menjadi tiga kali setahun atau IP 300. Dengan luas sawah baku mencapai 52.033 hektare, potensi peningkatan produksi dinilai sangat besar.
Sinergi Pemerintah dan Petani Milenial Perkuat Lumbung Pangan Banten
Rahmat menambahkan, gerakan tanam serempak merupakan wujud komitmen pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan IP dan realisasi LTT. Pihaknya menargetkan LTT tahun ini seluas 157 ribu hektare untuk memastikan ketersediaan pangan dan menjaga surplus beras.
"Kita bersinergi antara pemerintah, petani milenial, dan penerapan teknologi modern. Diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.
Kabupaten Lebak selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Banten. Keberhasilan program ini akan menentukan kemampuan daerah dalam menjaga stabilitas pasokan beras, tidak hanya untuk kebutuhan lokal tetapi juga kontribusi terhadap cadangan pangan nasional.