CILEGON — Musim kemarau yang melanda Kota Cilegon, Banten, membuat warga di kawasan perbukitan harus bersusah payah mencari air bersih. Mereka rela berjalan kaki menuruni bukit untuk menjangkau sumber mata air yang masih tersisa, lalu memanggul jeriken dan ember berisi air untuk dibawa pulang ke rumah.
Warga Berjalan Ratusan Meter Demi Dua Jeriken Air
Pemandangan warga yang mengantre di titik-titik sumber air menjadi pemandangan sehari-hari di beberapa kelurahan di Cilegon. Sebagian besar dari mereka adalah ibu rumah tangga dan remaja yang harus mengulang perjalanan beberapa kali dalam sehari.
"Kalau pagi, antreannya bisa panjang. Saya ambil dua jeriken ukuran 20 liter, cukup untuk masak dan minum sehari. Untuk mandi, airnya kami pakai seadanya," ujar seorang warga yang ditemui di lokasi pengambilan air.
Kemarau Panjang, Sumur Warga Mulai Kering
Krisis air bersih ini diperparah oleh kondisi sumur-sumur milik warga yang mulai mengering. Air tanah di kawasan perbukitan sulit dijangkau, sehingga ketergantungan terhadap sumber mata air alami dan bantuan dari pemerintah daerah menjadi sangat tinggi.
Pemerintah Kota Cilegon sendiri telah menyalurkan bantuan air bersih melalui truk tangki ke beberapa titik yang paling parah terdampak. Namun, distribusi masih terkendala akses jalan yang sempit dan medan berbukit yang sulit dijangkau kendaraan besar.
Belum Ada Kepastian Kapan Hujan Turun di Cilegon
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa sejumlah wilayah di Banten akan mengalami puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus. Warga berharap pemerintah daerah dapat mempercepat distribusi air bersih dan menyediakan tandon di titik-titik strategis agar mereka tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mendapatkan air.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan musim hujan akan tiba di kawasan Cilegon dan sekitarnya. Warga pun hanya bisa bertahan dan berbagi sumber daya air yang tersisa.