LEBAK — Produksi gula aren yang telah menjadi denyut nadi ekonomi ribuan keluarga di Kabupaten Lebak kini mendapatkan saluran pemasaran baru yang lebih terstruktur. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bapperida Kabupaten Lebak Widy Ferdian mengungkapkan bahwa produk pangan lokal ini mulai dipasarkan melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) yang tersebar di berbagai kecamatan.
"Kita berharap produksi gula aren berbasis pangan lokal menjadikan andalan ekonomi masyarakat," kata Widy di Lebak, Jumat.
Pemasaran perdana ini telah menjangkau delapan unit koperasi. Di antaranya KDMP Girimukti (Kecamatan Cilograng), KDMP Luhur Jaya (Cipanas), KDMP Panancangan (Cibadak), KDMP Sumurbandung (Cikulur), serta KKMP Muara Ciujung Timur dan Muara Ciujung Barat di Kecamatan Rangkasbitung. Dua titik lainnya adalah KDMP Selaraja (Warunggunung) dan KDMP Serageni (Cimarga).
Pemerintah daerah menargetkan seluruh 399 KDMP dan 5 KKMP di Kabupaten Lebak nantinya dapat menjadi etalase pemasaran gula aren. Langkah ini dinilai strategis mengingat selama ini permintaan terhadap gula aren cukup tinggi dan telah menyumbang pendapatan signifikan bagi masyarakat.
Untuk memastikan keberlanjutan usaha, Kementerian Hukum (Kemenkum) turut memfasilitasi sertifikasi produk gula aren yang dipasarkan melalui koperasi-koperasi tersebut. Perlindungan terhadap potensi lokal ini menjadi fondasi agar produk Lebak mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Saat ini, gula aren dari Lebak tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal di Banten, tetapi juga telah merambah DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga pasar ekspor. Dengan total omzet mencapai Rp 96,65 miliar per tahun dari 6.000 perajin, komoditas ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi kerakyatan di wilayah tersebut.
Momentum pengembangan ini juga diikuti dengan persiapan mengikuti event "Jawara UMKM Banten" yang akan digelar pada 31 Juli 2026 oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Banten dan Cilegon. Dalam ajang yang khusus menyoroti kuliner UMKM tersebut, Kabupaten Lebak akan mengirimkan produk unggulannya, termasuk Gula Aren "Andi", Aneka Snack "Mama Okto", Ikan Olahan "Mak Bedah", Emping "Eka Putri Warunggunung", dan Kopi "Cigemblong".
"Kami berharap produk unggulan itu bisa menjadi andalan ekonomi masyarakat, sekaligus menyerap ribuan tenaga kerja," ujar Widy.
Di tengah optimisme tersebut, Widy mengingatkan para pelaku UMKM gula aren untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu produk. Persaingan pasar yang semakin ketat menuntut standar produksi yang konsisten agar gula aren Lebak tetap menjadi komoditas unggulan daerah dan sumber ekonomi utama masyarakat.
Pengembangan usaha gula aren di Lebak sendiri telah berlangsung puluhan tahun, didukung oleh melimpahnya bahan baku pohon aren di wilayah tersebut. Dengan adanya saluran pemasaran melalui koperasi dan dukungan sertifikasi, sektor ini diharapkan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan perajin secara berkelanjutan.