SERANG — Tim kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) dari Dinas Pertanian Provinsi Banten telah menyisir titik-titik penjualan hewan kurban di seluruh kabupaten/kota sejak pekan lalu. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Banten, M Nasir, menyatakan hingga saat ini tidak ditemukan indikasi penyakit pada ternak yang akan disembelih pada Idul Adha 1447 Hijriah.
"Tim kami sudah disebar ke berbagai titik lapak penjualan untuk melakukan pengawasan. Alhamdulillah hingga saat ini tidak ditemukan penyakit pada hewan kurban," kata Nasir di Serang, Rabu.
Pengawasan diperketat lantaran pasokan hewan kurban di Banten tidak hanya berasal dari peternak lokal. Sejumlah pedagang mendatangkan sapi dan kambing dari Jawa Barat serta Lampung. Dinas Pertanian mewajibkan setiap ternak yang masuk wilayah setempat membawa surat keterangan sehat dari dokter hewan di daerah asal.
Kebijakan ini menjadi lapisan pertama filter kesehatan sebelum hewan diperjualbelikan ke masyarakat. Tanpa dokumen tersebut, ternak tidak diizinkan masuk ke area penjualan resmi.
Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah turun langsung meninjau hewan kurban yang dihimpun dari jajaran ASN Pemprov Banten. Total terkumpul 32 ekor sapi, dua ekor kerbau, dan 23 ekor kambing. Semua hewan jantan tersebut telah diperiksa kesehatannya secara berlapis.
"Semua hewan kurban yang diserahkan merupakan hewan jantan, sehat, dan sudah diperiksa kesehatannya berkali-kali," ujar Wagub Dimyati saat penyerahan kurban di Masjid Raya Al Bantani, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang.
Hewan dari ASN itu kemudian digabungkan dengan himpunan kurban Baznas Banten sebanyak 25 ekor sapi dan 37 ekor kambing. Seluruhnya akan didistribusikan ke warga yang berhak di delapan kabupaten/kota se-Banten.
Selain pengawasan fisik ternak, Dinas Pertanian menggencarkan sosialisasi kepada pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan panitia penyembelihan. Materi sosialisasi mencakup tata cara penyembelihan yang memenuhi standar kesehatan sekaligus syariat Islam.
Upaya ini dinilai penting karena kualitas daging kurban tidak hanya ditentukan oleh kesehatan hewan saat hidup, tetapi juga cara pemotongan dan penanganan pasca-penyembelihan. Daging yang terkontaminasi bakteri akibat proses yang tidak higienis bisa membahayakan konsumen.
Banten menjadi salah satu provinsi dengan mobilitas ternak kurban yang tinggi. Posisinya yang berdekatan dengan Jakarta dan Jawa Barat membuat daerah ini menjadi pasar sekaligus jalur distribusi. Tanpa pengawasan ketat, risiko masuknya penyakit hewan seperti antraks atau septichaemia epizootica (SE) meningkat.
Data Dinas Pertanian menunjukkan hampir 2.000 lapak penjualan tersebar di delapan kabupaten/kota. Angka ini mencerminkan tingginya permintaan hewan kurban setiap tahun, sekaligus tantangan pengawasan di lapangan.