BANTEN — Level psikologis Rp 17.700 per dolar AS akhirnya jebol. Ini kali pertama rupiah berada di titik terlemah sejak era reformasi, melampaui rekor buruk saat krisis 1998. Pelemahan terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global dan ketidakpastian pasar keuangan domestik.
Bagi masyarakat, rupiah yang terus merosot berarti harga barang impor—dari elektronik, obat-obatan, hingga bahan baku makanan—berpotensi naik. Produsen yang bergantung pada komponen luar negeri akan menghadapi kenaikan biaya produksi. Sementara itu, bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam dolar, beban pembayaran membengkak signifikan.
Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Namun, efek positif ini belum cukup untuk mengimbangi tekanan di sektor riil.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyebut ada dua faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Pertama, meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda serangan terhadap Iran, yang sempat memicu aksi risk-off global. Kedua, pelaku pasar masih menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan.
“Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat pelaku pasar cenderung wait and see. Investor menunggu sinyal konkret dari BI untuk menjaga stabilitas kurs,” ujar Lukman.
Menurut Lukman, rupiah berpotensi menguat terbatas dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Namun, tekanan masih akan datang dari kondisi fundamental domestik yang dinilai lemah, termasuk cadangan devisa yang menipis dan defisit transaksi berjalan.
Mayoritas mata uang Asia juga ikut melemah terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea Selatan turun 0,74%, baht Thailand melemah 0,18%, dan yen Jepang terkoreksi 0,08%. Hanya yuan China yang relatif stabil dengan pelemahan tipis 0,01%.
Pasar berekspektasi BI akan menaikkan suku bunga acuan dalam RDG yang tengah berlangsung. Langkah ini dinilai perlu untuk menarik aliran modal asing dan menahan laju pelemahan rupiah. Namun, kenaikan suku bunga juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi di tengah konsumsi rumah tangga yang belum pulih.
Pemerintah dan swasta memiliki total utang luar negeri yang sebagian besar dalam denominasi dolar. Setiap pelemahan rupiah sebesar Rp 100 per dolar AS, beban pembayaran utang bertambah sekitar Rp 4 triliun secara akumulatif. Dengan pelemahan tahun ini yang sudah mencapai 6,25%, tekanan terhadap APBN dan neraca pembayaran semakin besar.
Potensi penguatan masih ada, terutama jika BI menaikkan suku bunga lebih agresif dari perkiraan pasar. Namun, sentimen global—terutama kebijakan moneter The Fed dan ketegangan geopolitik—akan tetap menjadi penentu utama arah rupiah dalam jangka pendek. Investor disarankan mencermati pengumuman hasil RDG BI yang dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan.